Buka Buku 36: Persaingan Penangsang-Joko Tingkir-Pemanahan

Standar

 

AWAL KEBANGKITAN MATARAM

Setelah meninggalnya Trenggono, takhta Demak menjadi rebutan tiga tokoh yang mewakili tiga generasi.

Yang pertama adalah Penangsang sebagai cucu Raden Patah. Yang kedua adalah Joko Tingkir, sebagai menantu Sultan Trenggono. Dan yang ketiga adalah Ki Ageng Pemanahan, sebagai penerus Majapahit.

Begitulah yang kutangkap dari pembacaan atas buku “Awal Kebangkitan Mataram” karya HJ de Graaf. Buku yang menceritakan tentang masa pemerintahan Panembahan Senopati, setelah Demak hancur dan Pajang pun runtuh. Sebuah kemenangan gemilang yang bermula dari direbutnya takhta Demak oleh Joko Tingkir atas Penangsang.

Penangsang adalah pewaris yang syah atas Demak, karena dialah cucu dari Raden Patah. Yang dalam aturan suksesi kepemimpinan, sangat berhak atas takhta, karena meneruskan jalur ayahnya, Pangeran Sekar Sedo Lepen. Dan sebagai murid Sunan Kudus, Penangsang memang dipersiapkan menjadi pelanjut Demak sebagai kekhalifahan Islam di Jawa.

Dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang lurus, Demak di tangan Penangsang akan menjadi kerajaan Islam yang tegak seperti jaman Raden Patah berkuasa.  Dengan “Kitab Salokantara” yang telah menjadi acuan tata aturan kerajaan yang berdasarkan syariat Islam, yang membuat kekuasaan raja pun tetap dikawal oleh permusyawaratan ulama.

Namun maksud itu dihadang dengan ambisi Joko Tingkir yang dendam pada Demak. Sebab kerajaan Pengging peninggalan ayahnya, Kebo Kenongo, runtuh setelah Raden Patah memintanya tunduk. Kerajaan peninggalan Prabu Balawardhana yang telah ada jauh sebelum Majapahit berdiri. Sebuah kerajaan yang pada pemerintahan Prabu Handayaningrat juga menjadi kelanjutan pecahan Majapahit.

Joko Tingkir berambisi untuk merebut takhta Demak untuk melanjutkan kejayaan Pengging, yang juga merupakan penerus Majapahit. Karena dari silsilah, Joko Tingkir adalah anak dari Kebo Kenongo. Sementara Kebo Kenongo adalah putra dari Handayaningrat dengan istri Putri Pembayun, putri Majapahit. Seorang perempuan yang menjadi hadiah bagi Handayaningrat atas jasanya pada Majapahit dalam menaklukan Blambangan dan Bali.

Sebagai keturunan Majapahit dari jalur putri Pembayun, Joko Tingkir merasa leluhurnya lebih berderajat untuk melanjutkan Majapahit dibandingkan dengan leluhur Demak. Karena Raden Patah adalah anak dari istri Raja Majapahit yang telah dibuang ke Palembang.

Dengan dalih itulah, Joko Tingkir merasa lebih berhak meneruskan kegemilangan Majapahit, yang setelah runtuh digantikan oleh Demak. Maka jalan satu-satunya adalah dengan merebut takhta Demak, untuk membangkitkan kembali kerajaan Pengging, dengan semangat kejayaan Majapahit.

Dan ia bisa melakukan perebutan itu, dengan masuk menjadi keluarga Demak. Yakni dengan menjadi menantu Sultan Trenggono. Maka setelah Trenggono meninggal, kesempatan itu pun ia gunakan untuk mewujudkan mimpinya, sebagai pemegang tampuk atas Demak. Yang dengan itu, ia harus menghilangkan pesaing utamanya, yakni Penangsang.

Namun di antara perebutan takhta oleh Penangsang dan Joko Tingkir, sebenarnya ada pemain satu lagi yang juga berniat untuk meruntuhkan Demak. Dengan tujuan yang sama pula untuk mengembalikan kegemilangan Majapahit. Tokoh yang tak terlihat jelas kasat mata adalah Ki Ageng Pemanahan. Tokoh ini pun merasa berhak untuk merebut takhta Demak, karena leluhurnya pun merupakan anak dari Raja Majapahit.

Adalah Bondan Kejawen, seorang putra Brawijaya dari putri Wandan yang telah melahirkan anak bernama Getas Pendawa. Dari Getas Pendawa melahirkan Ki Ageng Selo, yang tak lain adalah ayah dari Ki Ageng Pemanahan. Tokoh ini merasa lebih berhak, karena dibanding leluhur Joko Tingkir dan Penangsang, leluhurnya adalah keturunan laki-laki, yakni Bondan Kejawen. Hingga dalam “Babad Tanah Jawi” kita akan temukan kisah yang menonjolkan leluhur dan keturunan Pemanahan. Menonjolkan kisah Bondan Kejawen dan juga Panembahan Senopati.

Dalam kisah yang merupakan legitimasi tersebut, diceritakan bahwa Bonda Kejawen diramalkan akan mendatangkan bahaya, hinggga harus dibunuh pada waktu bayi. Namun dengan pertolongan Ki Buyut Masahar, Bondan Kejawen bisa lolos dari kematian. Bahkan kemudian diaku kembali sebagai anak dari Raja Majapahit dengan gelar Lembu Peteng.

Demikian juga dengan cerita tentang Panembahan Senopati,yang untuk menunjukan kehebatannya, dialah yang dijagokan dalam perang melawan Penangsang. Bahkan Senopati pula yang berhasil membunuh Penangsang dengan tipu muslihat dari Juru Mertani dan Pemanahan.

Dan kisah legitimasi itu berlanjut ketika berpadu dengan ramalan Sunan Giri yang menceritaka bahwa keturunan Pemanahan lah yang akan menjadi penguasa atas Tanah Jawa. Juga pertemuannya dengan Sunan Kalijaga di Kembang Lampir, ketika tanah Mentaok tidak juga diberikan oleh Joko Tingkir, sebagai bentuk kekhawatiran atas ramalan Sunan Giri.

oleh Nassirun Purwokartun pada 8 Agustus 2011 pukul 22:35

Iklan

Buka Buku 35: Inspirasi Demak Untuk Indonesia

Standar

 

KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA

Sepertinya, kebijakan pemerintahan Demak dari Raden Patah, ke Pati Unus, sampai Trenggono hanya untuk memperkokoh kekuasaan Demak. Namun secara tidak langsung, sebenarnya telah memberikan inspirasi tentang daulat hukum dan sikap anti penjajahan pada bangsa Indonesia di kelak kemudian hari.

Raden Patah sang raja pertama, telah berhasil mendirikan Demak sebagai kekhalifahan Islam di pulau Jawa. Dengan Sunan Giri sebagai pemimpin Waliyyul Amri, Raden Patah selaku Ulil Amri berhasil menyusun kitab undang-undang “Salokantara”. Sebuah aturan hukum dan ketatanegaraan yang menjadi acuan jalannya pemerintahan Demak.

Kitab undang-undang yang berlandaskan syariah Islam, yang mengakui bahwa semua manusia sama derajatnya, sebagai khalifah Allah di dunia.  Hingga dengan begitu, rakyat tak lagi sebagai kawula yang hanya tunduk patuh para raja, namun juga mempunyai jaminan kepastian hukum yang adil untuk mereka.

Dan dengan bersandar pada Kitab Salokantara tersebut, raja-raja Demak juga secara sadar dan ikhlash dikontrol oleh kekuasaan Waliyyul Amri. Bahwa jalannya pemerintahan tidak berada dalam genggaman tangan seorang raja yang merasa sebagai titisan Dewa, hingga merasa selalu benar dan tak pernah salah. Dengan kepastian hukum itu, Demak telah memperkenalkan daulat hukum dan menjalankannya.

Setelah Raden Patah wafat, kekuasan Demak turun pada Pati Unus. Dengan pondasi kekuasaan yang telah kokoh, Demak mulai memperhitungkan keberadaanya. Sebagai kerajaan terbesar di Jawa, Demak yang saat itu merasa terancam oleh Portugis yang tengah menjajah Malaka, mengadakan perlawanan.

Penyerbuan dua kali yang dilancarkan Pati Unus dalam masa pemerintahannya yang hanya 3 tahun, adalah bukti bahwa Demak mempunyai armada laut yang perkasa. Yang meskipun tak berhasil mengusir Portugis, namun mampu memporak-porandakan pertahanan mereka. Dan dengan serangan itu, Portugis mengalami kerugin besar. Sebuah kenyataan pula, bahwa Demak telah melakukan perlawanan dan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan di atas dunia.

Dan perlawanan terhadap Portugis pun tetap dilakukan Demak pada masa pemerintahan Trenggono. Hanya kebijakannya berbeda. Kalau Pati Unus menggempur Portugis di Malaka, Trenggono lebih menekankan pada pertahanan di Jawa. Hingga seluruh pesisir utara, dari Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Gresik, Tuban, Pasuruan, dan Panarukan hendak dijadikan pertahanan Demak untuk membendung masuknya Portugis ke Jawa.

Banten dan Sunda Kelapa, sebagai pelabuhan utama kerajaan Pajajaran yang hendak bekerja sama dengan Portugis, telah berhasil ditundukkan. Berkat serbuan prajurit Demak yang dipimpin Fatahillah, dan dibantu laskar santri Cirebon pimpinan Sunan Gunung Jati dan Hasanuddin. Kemudian, dengan runtuhnya Majapahit, Tuban dan Gresik yang dulu menjadi Bandar utama Majapahit pun telah berada dalam kekuasaan Demak.

Hanya tinggal Pasuruan dan Panarukan di ujung timur pulau Jawa, yang merupakan pelabuhan utama Blambangan yang belum berada dalam genggaman Demak. Hingga di akhir kekuassan Trenggono, armada perang Demak kembali diberangkatkan dengan panglima utamanya, Fatahillah. Benteng Pasuruwan telah berhasil dikuasai, setelah peperangan panjang selama tiga bulan. Namun ketika hendak menyerbu Panarukan, Demak mengalami kekalahan sebab mendadak Sultan Trenggono terbunuh. Hingga cita-citanya mengamankan pulau Jawa dari barat sampai ke timur gagal dilaksanakan.

Begitulah yang kudapatkan dari buku “Kerajaan Islam Petama di Jawa” karya HJ. De Graaf dan Pigeaud, dua tokoh besar sejarah Jawa. Sebuah buku yang kemudian menjadi referensi utamaku dalam menulis novel Penangsang. Karena memang buku itu mengulas tuntas tentang tinjauan sejarah politik abad XVI dan XVI.

Dan sepertinya, buku itulah yang paling lengkap dalam menuturkan Demak. Sejak kemunculannya hingga keruntuhannya. Sejak Raden Patah dilantik menjadi Sultan, hingga Trenggono terbunuh di Panarukan. Sebuah kekuasaan yang tak lebih dari satu abad. Namun telah mengukir sejarah indah tentang kekuasaan yang berlandaskan syariah agama Islam.

“Raja-raja Demak berkuasa hanya selama 65 tahun,” begitu Rendra pernah mengungkapkan kekagumannya dalam sebuah pidato kebudayaannya  yang berjudul ’Megatruh.’ “Namun mereka adalah pahlawan-pahlawan bangsa yang memperkenalkan daulat hukum kepada bangsanya, yang terus membekas sampai kepada Mohammad Syafei, Cokroaminoto, dan tokoh-tokoh pembela hak asasi manusia dewasa ini.”

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Agustus 2011 pukul 8:11

Buka Buku 34: Dari Jin Bun Hingga Tung Ka Lo

Standar

 

CINA MUSLIM

“Buku ini merupakan karya agung dua ilmuwan terbesar dalam bidang sejarah, bahasa, dan sastra Jawa.”

Begitu M.C. Ricklefs memberikan pengantar editornya pada buku “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos.” Buku karya HJ De Graaf dan Pigeaud yang pertama kali diterbitkan oleh Monash Asia Institut pada tahun 1994.  Karya yang merupakan hasil pembahasan kritis dari lampiran pada buku “Tuanku Rao” yang menjadi bahan perdebatan.

Karya ini menjadi menarik karena kedua pakar tersebut melakukan analitis perbandingan dengan tiga sumber utama sejarah Jawa. Yakni Catatan Perjalanan Pengembara Portugis, Tome Pires; catatan-catatan documenter Cina Daratan; dan Babad Tanah Jawa.

Lewat studi perbandingan silang ini, kedua pakar tersebut bisa menunjukkan kepada pembaca, posisi sesungguhnya teks tersebut. Dengan demikian, juga telihat bagaimana hubungan Cina dengan pribumi Jawa pada saat itu. Selain tentang keraguan pada naskah asli dari Kronik Tionghoa yang konon ditemuakn Poortman di Klenteng Sam Po Kong. Naskah yang dalam buku ini disebut dengan “Catatan Tahunan Melayu.”

Sebab sulit dipercaya, kalau kertas-kertas yang merupakan catatan asli itu berada di kota Semarang selama 400an tahun. Iklim tropik yang basah, api, dan kekacauan politik dalam negeri paling tidak sudah merusak arsip-arsip lama yang berasal dari abad 16.

Namun dari beberapa perbandingan antar naskah yang dipaparkan, aku mendapat banyak informasi tentang keberadaan Demak. Salah satunya adalah tentang sosok Raden Patah, yang dalam naskah tersebut dikenal denan nama Jin Bun. Sebuah nama Cina yang konon berarti “Satria Perkasa.”  Juga dengan kedua raja berikutnya, yakni Pati Unus dan Trenggono, yang dalam naskah disebut sebagai Yat Sun dan Tung Ka Lo.

Menurut “Catatan Tahunan Melayu”, Jin Bun hidup dari tahun 1455 sampai 1518, yang berarti berusia 63 tahun. Sejak kecil hingga remaja berdiam di Palembang selama 18 tahun, sejak 1455 sampai tahun 1474. Menjelang remaja ia berangkat ke Jawa untuk menuntut ilmu pada Sunan Ampel, yang dalam naskah itu bernama Bong Swi Hoo. Dan setelah menjadi raja Demak, ia memerintah selama 40 tahun. Yakni naik takhta saat usia 23 tahun pada tahun 1475 sampai meninggal pada tahun 1518.

Sementara penggantinya, Yat Sun atau Pati Unus mempunyai masa kekuasaan yang sangat pendek. Hanya berkuasa selama 3 tahun, dari 1518 sampai 1521. Yang dalam naskah itu dianggap sebagai masa penyeling kekuasaan Trenggono atau Tung Ka Lo. Karena setelah Yat Sun meninggal, Trenggono naik takhta menggantikan sebagai raja Demak ketiga.

Di masa Trenggono inilah, 1.000 armada kapal yang dipersiapkan dari Semarang, digunakan untuk ekspedisi laut ke Maluku. Laporan Portugis menyebutkan adanya pertempuran melawan kapal-kapal orang Jawa, Makasar, dan Banda di laut Banda pada periode itu.

Pemberangkatan yang sama dengan dilepasnya armada perang Demak untuk menggempur Panarukan. Sebuah ekspedisi terakhir Sultan Trenggono yang gagal, dan ia mati terbunuh pada tahun 1546. Hingga kalau dihitung waktu, Trenggono telah memimpin Demak selama 25 tahun.

Yang setelah kematiannya tersebut, Demak mengalami kegoncangan, karena terjadi perebutan kepemimpinan. Hingga kalau dihitung waktu, sejak Jin Bun naik takhta pada tahun 1475, dan berakhir dengan wafatnya Trenggono pada tahun 1546, umur kekuasaan Demak tak lebih dari 71 tahun saja.

Usia yang singkat untuk sebuah kekhalifahan Islam di Tanah Jawa.

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Agustus 2011 pukul 15:24

Buka Buku 33: Dari Ucapan Pedal, Walisanga Jadi Cina

Standar

 

MASYARAKAT ISLAM TIONGHOA DI INDONESIA

Pada tahun 1968, terbitlah buku berjudul “Runtuhnya Kerajaan Hindu Djawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.”

Buku hasil karya Prof. Dr. Slamet Mulyana itu langsung menarik perhatian. Dengan menggunakan dokumen sejarah yang konon pernah disimpan di Klenteng Sam Po Kong Semarang, dan Klenteng Talang Cirebon, buku tersebut menyajikan kesimpulan bahwa Sultan Demak dan Walisanga adalah orang-orang keturunan Tionghoa.

Kesimpulan yang kemudian mengundang reaksi keras dari sebagian masyarakat Indonesia yang merasa tersinggung. Hingga dengan SK Jaksa Agung, tahun 1971 buku tersebut dilarang beredar. Sementara di kalangan sejarawan sendiri, buku tersebut mula-mula berhasil memikat banyak perhatian, hingga sering dipakai sebagai buku sumber acuan. Namun di belakang hari, ternyata telah muncul beberapa kritik mengenai buku tersebut. Terutama mengenai adanya dokumen-dokumen sejarah yang konon pernah tersimpan di Klenteng Sam Po Kong dan Klenteng Talang, yang justru telah menjadi basis kesimpulan oleh Prof. Slamet Mulyana.

Yang ternyata, dalam menyusun buku tersebut, belum pernah sekalipun melihat sendiri dokumen-dokumen sejarah itu. Prof  Slamet Mulyana hanya mengetahuinya dari buku “Tuanku Rao” karya Mangaraja Onggang Parlindungan, yang konon bersumber dari penelitian Residen Poortman.

Dan hasil penilitian tersebut telah menarik perhatian Denys Lombard, seorang orientalis Prancis, yang dalam cutinya telah memerlukan mencarinya ke Belanda. Hasilnya ternyata nihil. Bahkan putra mendiang Residen Poortman sendiri tidak tahu menahu mengenai naskah prasaran yang konon kabarnya pernah disampaikan oleh mendiang ayahnya yang berjumlah 5 eksemplar itu.

Di samping itu, Gedung Negara  Rijswijk yang disebut-sebut sebagai tempat menyimpan prasaran Residen Poorttman di Denhag, ternyata tidak ada. Yang ada hanyalah Algeemen Rijskarchief.

Dan seorang sejarawan lainnya, Prof. Dr. Sartono Kartodirjo juga sangat menyangsikan adanya dokumen sejarah yang konon pernah disimpan di Klenteng Sam Po Kong. Prof Sartono mempersoalkan, bagaimana mungkinnya sebalam lima abad, orang bisa menyimpan dokumen yang konon banyaknya hingga 3 cikar dalam klenteng itu. Sementara kenyataannya, di klenteng itu justru tidak terdapat ruangan atau gudang yang cukup luas untuk menyimpan dokumen sebanyak itu.

Dan jauh sebelumnya, dalam sebuah pertemuan di museum Radya Pustaka tahun 1956, KGPH Hadiwidjaya telah mengemukakan adanya pandangan tersebut di kalangan masyarakat Tionghoa.

“Bangsa Tionghoa ada yang berbalik sama sekali mengukuhi pendapat jika para Wali dan orang besar pada jaman kuno, sebenarnya bukan orang Jawa. Akan tetapi bangsa Tionghoa. Sebagai bukti kebenarannya bisa terlihat dari nama-namanya. Sunan Kalijaga, yang bernama asli Raden Sahid, adalah perkataan dari bahasa Tionghoa Sa-It (sa=3, it=1, adalah 31). Yakni peringatan kelahirannya, waktu ayahnya berusia 31 tahun. Sementara Sunan Bonang adalah Bo Bing Nang. Ki Ageng Gribib adalah Siauw Dji Bik. Dan Ki Ageng Pengging adalah Heng Pa Hing…”

Dan dalam penjelasan lanjutannya, KGPH Hadiwidjaya menilai bahwa “pengakuan orang Tionghoa  itu kasarannya hanya nekad-nekadan saja, yang terbit pada waktu belakangan. Jika dirasakan berasal dari ucapan yang pedal, waktu belum ada atau belum banyak orang Tionghoa peranakan.”

Itulah yang kudapatkan sebagai jawaban atas penasaranku, perihal Wali yang konon berkebangsaan Tionghoa. Penjelasan dari buku “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia” karya Amen Budiman, seorang pemerhati sejarah Semarang yang juga mempunyai banyak minat pada sejarah dan kebudayaan pesisiran.

Yang memberikan pendapat, bahwa karena ucapan pedallah, hingga akhirnya nama-nama Wali yang teramat meleset pengucapannya, diyakini orang-orang Tionghoa yang fanatik. Hingga kemudian  dianggap dan diakui jika semua Wali adalah bangsa Tionghoa.

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 Agustus 2011 pukul 10:18

Buka Buku 32: Raja Demak Dan Walisanga Keturunan Cina?

Standar

 

TUANKU RAO

Raden Patah dikenal juga dengan nama Panembahan Jimbun. Konon karena dia adalah keturunan Cina, yang bernama asli Jin Bun, sebuah bahasa Tionghoa dialek Yunnan yang berarti “orang kuat.”

Begitulah yang kudapatkan dari buku “Tuanku Rao” susunan Mangaraja Onggang Parlindungan. Sebuah buku yang puluhan tahun silam sempat menjadi kontroversi karena memaparkan bahwa para Sultan Demak dan para Wali adalah keturunan Cina.

Selain Raden Patah yang bernama asli Jin Bun, Pati Unus yang menjadi raja Demak ke dua pun konon bernama asli Yat Sun. dan Sultan Trenggono, raja Demak ketiga, bernama asli Tung Ka Lo. Begitu pun dengan Sunan Kalijaga, ia adalah seorang kapiten Tionghoa di Semarang dengan nama asli Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Ngampel bernama asli Bong Swi Hoo. Sunan Kudus yang nama kecilnya Ja’far Shadiq, bernama Ja Tik Su. Sementara Sunan Gunung Jati bernama asli Toh A Bo. Sunan Giri dan Sunan Bonang merupakan keturunan Tionghoa yang sudah tak bisa lagi berbahasa Tionghoa, karena lama diasuh oleh Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Menurut Mangaraja Onggang Parlindungan, pada tahun 1928, Residen Poortman yang saat itu menjabat Adviseur voor Indlandsche Zaken van het Binnenlandhsch Bestur (pejabat penasehat untuk masalah pribumi departemen pemerintahan dalam negeri) di Batavia telah mendapat tugas dari pemerintah Belanda untuk menyelidiki kebenaran tentang Raden Patah adalah seorang keturunan Tionghoa.

Pada tahun itu juga, Residen Poortman berangkat ke Semarang. Pada waktu itu di Semarang tengah berkobar pemberontakan orang-orang komunis, hingga menurut Parlindungan, Residen Poortman mendapat alasan untuk menggeledah klenteng Sam Po Kong di Semarang. Dengan bantuan polisi Residen Poortman berhasil melakukan rencananya, dan dari klenteng tersebut ia telah berhasil mengangkut semua tulisan Tionghoa yang tersimpan di dalamnya, sebanya tiga pedati.

Tulisan-tulisan tersebut ada yang telah berumur lebih dari empat abad. Oleh Residen Poortman telah dijadikan menunaikan tugasnya, bahwa identitas asli Raden Patah adalah keturunan Tionghoa bernama asli Jin Bun.

Hasil penelitian Residen Poortman tersebut termuat dalam mukadimah prasaran yang disampaikannya pada pemerintah Belanda. Sekalipun prasaran itu disampaikan dalam bentuk cetakan, tetapi hanya dicetak lima eksemplar, masing-masing diberi tanda angka. Dimaksudkan terutama untuk Perdana Menteri Colijn, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Menteri Jajahan, dan Arsip Negara di Rijswick, Den Haag. Dalam prasaran itu juga diberi tanda GZG, singkatan dari Geheim Zeer Geheim, artinya sangat rahasia. Ditambah dengan keterangan “uitsluitend voor Dienstgebruik ten kantore” yang berarti “hanya boleh digunakan di kantor saja.”

Menurut Parlindungan, atas permintaan Residen Poortman sendiri, hasil penelitian itu tetap dirahasiakan oleh pemerintah Hindia Belanda. Hanya boleh digunakan di kantor oleh pejabat-pejabat tertentu saja, demi ketentraman Pulau Jawa. Sebab jika hasil itu diketahui umum, dikhawatirkan akan menimbulkan kegoncangan di masyarakat Islam pulau Jawa.

Dan kesimpulan dari Residen Poortman itulah yang kemudian dijadikan lampiran pada buku “Tuanku Rao”. Buku yang sesungguhnya menuliskan kisah Pangkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao, tentang peranannya dalam pengislaman di Tanah Batak pada tahun 1816-1833.

Namun dalam lampiran XXXI, berjudul “Peranan Orang-orang Tionghwa/Islam/Hanafi didalam perkembangan agama Islam di pulau Jawa.” Sebuah bahan yang kemudian menjadi rujukan  pendapat bahwa Raden Patah dan Para Wali adalah keturunan Tionghoa.

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Agustus 2011 pukul 11:19 ·

Buka Buku 31: Dari Masjid Menjadi Klenteng

Standar

 

MUSLIM TIONGHOA CHENG HO

Selain pertimbangan lain, konon, Kesultanan Demak didirikan juga karena Raden Patah terharu hatinya, prihatin dan trenyuh jiwanya melihat masjid yang berubah menjadi klenteng.

Pada saat Raden Patah datang dari Palembang  ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu di Pesantren Sunan Ampel, ia tidak mendarat di Gresik atau Surabaya yang jaraknya lebih dekat. Melainkan turun di Semarang, yang justru sangat jauh di barat tempat yang ditujunya. Dan rencana turun di Semarang bukan tanpa tujuan, sebab ternyata ia hendak melihat masjid peninggalan laksamana Cheng Ho, yang ada di daerah Simongan.

Yang setelah ia melihat keadaan masjid yang telah berusia ratusan tahun itu, Raden Patah sangat trenyuh. Terharu melihat masjid yang tersisa tak lagi berfungsi sebagai masjid, melainkan menjadi klenteng bernama Sam Po Kong. Dan lebih prihatin lagi, karena di dalam bekas masjid itu, terdapat patung besar sang laksamana yang telah dijadikan sesembahan.

Keprihatinan tentang masjid laksamana Cheng Ho itulah yang kemudian membuat Raden Patah membangun kerajaannya tak jauh dari Semarang. Dan membangun masjid di Demak sebagai pusat penyebaran dakwah Islam dengan jalan pemerintahan, Kesultanan Demak sebagai penggeraknya.

Namun meskipun Kesultanan Demak tegak berdiri, dan Semarang menjadi bawahan Demak, kelenteng Sam Po Kong tidak diruntuhkan. Karena semangat Demak adalah perdamaian dan kedamaian. Demi menghargai jasa Cheng Ho yang telah turut menyebarkan Islam dalam sepanjang pelayaran kunjungan muhibahnya yang juga menyebarkan perdamaian.

Pada pertengahan pertama abad XV, Kaisar Zhu Di Dinasti Ming Tiongkok mengutus suatu armada raksasa untuk mengadakan kunjungan perdamaian ke Laut Selatan. Armada itu dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho dengan Wang Jing Hong sebagai orang kedua.

Ketika armada berlayar di muka pantai utara Jawa, Wang Jing Hong mendadak sakit keras. Menurut perintah Cheng Ho, armada itu singgah di pelabuhan Simongan, yang kemudian bernama Mangkang, Semarang. Setelah mendarat, Cheng Ho dan awak kapalnya menemukan sebuah goa. Goa itulah yang kemudian dijadikan suatu tangsi untuk sementara. Dan dibuatlah sebuah pondok kecil di luar gua sebagai tempat peristirahatan dan pengobatan bagi Wang. Cheng  Ho sendiri yang merebus obat tradisional untuk Wang. Hingga Wang mulai membaik sakitnya.

Sepuluh hari kemudian, Cheng Ho melanjutkan pelayarannya ke barat, dan ditinggalkan 10 awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang, disamping sebuah kapal dan bermacam perbekalan. Namun setelah Wang sembuh, ia menjadi betah di Semarang. Hingga dipimpinnya 10 awak kapal itu untuk membangun sebuah pemukiman. Dan kapal peninggalan Cheng Ho dimanfaatnya untuk perdagangan sepanjang pesisir pantai utara.

Seperti juga Cheng Ho, Wang pun seorang muslim yang shaleh. Dia giat menyebarkan agama islam di kalangan penduduk yang turut mendiami lahan di sekitar Simongan, sampai dengan meninggalnya pada usia 87 tahun. Jenazahnya dikebumikan tak jauh dari goa, yang dulunya menjadi tempat peristirahatan sementara. Orang-orang Jawa kemudian mengenalnya sebagai Ki Juru Mudi Dampo Awang. Yang sekarang makamnya masih ditemukan di kompleks Kelenteng Sam Po Kong, Semarang.

Lambat laun, semakin banyaknya orang-orang Tionghoa yang bermukim ke Simongan.Demi menghormati jasa dan kebesaran laksamana Cheng Ho, mereka mendirikan patung sang laksamana, yang mereka kenang sebagai Sam Po Kong. Sejak saat itu, pada tanggal 1 dan 15 tiap bulan Imlek, orang-orang berbondong-bondong datang untuk menyembah patung Sam Po Kong, sekaligus berziarah ke makam Wang Jing Hong atau Ki Juru Mudi Dampo Awang.

Begitulah yang kudapatkan dari buku “Muslim Tionghoa Cheng Ho” karya Prof. Kong Yuanzhi. Sebuah buku yang menuturkan dengan rinci tentang misi perjalanan perdamaian Cheng Ho di nusantara.

Bahwa ternyata, kelenteng Sam Po Kong yang sekarang masih berdiri megah di Simongan, dulunya adalah sebuah masjid. Sebuah tempat yang juga menjadi penyebaran Islam oleh Dampo Awang. Sebuah tempat yang telah membuat hati Raden Patah terharu. Tersentuh, prihatin dan trenyuh.

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Agustus 2011 pukul 7:34

Buka Buku 30: Kekalahan Demak, Kemenangan Portugis

Standar

 

KERAJAAN-KERAJAAN AWAL KEPULAUAN INDONESIA

Dengan tindakan penjajahan dan penjarahan yang dilakukan Portugis, membuat Demak bersiaga. Bertahan agar Jawa tak takluk dengan gempuran Portugis, seperti yang telah dilakukan terhadap Goa, Malaka dan Maluku di kawasan nusantara.

Demak sebagai kerajaan Islam yang memang telah dijadikan musuh oleh Portugis, bersiaga untuk mempertahankan diri. Bahkan kemudian juga menganggap Portugis sebagai lawan. Hingga setiap kerajaan di Jawa yang bersekutu dengan Portugis, dianggapnya sebagai ancaman juga.

Maka begitu mengetahui Pajajaran hendak bekerjasama dengan Portugis, dengan membangun benteng di Sunda Kelapa, Demak langsung bergerak. Prajurit dari Demak dibantu dengan prajurit Cirebon berangkat ke ujung barat Pulau Jawa, menaklukan Banten, sebagai strategi menundukkan Sunda Kelapa.

Hingga dengan direbutnya Banten dan Sunda Kelapa, Pajajaran tak lagi bisa bekerja sama dengan Portugis, yang sudah ditanda tangani pada tahun 1521. Bahkan dengan dikuasainya Sunda Kelapa oleh Fatahillah sang panglima perang Demak, pada tahun 1526 Portugis yang datang langsung diserbu dan diusir dari pelabuhan. Sebuah kemenangan yang gemilang tentang pengusiran Portugis,yang dengan bekerja sama maka penjajahan dan penjarahan pala dari Sunda akan terbuka.

Begitu pun ketika Majapahit yang telah dalam cengkeraman Girindrawardhana. Kekuatan Demak yang makin kuat dan besar, membuat Girindrawardhana kecut untuk menghancurkannya. Maka Majapahit pun hendak bekerja sama dengan Portugis, untuk membantu menyerbu Demak. Berkarung rempah dan kain telah dikirim Majapahit ke Malaka, sebagai permintaan bantuan pada Portugis.

Namun belum lagi Portugis datang membantu, rencana kerjasama itu telah tercium oleh Demak.  Hingga digempurlah Majapahit oleh Demak, hingga mengalami keruntuhannya. Jadi, penyerangan Demak terhadap Majapahit, bukan di masa Raden Patah terhadap Brawijaya Kertabumi. Melainkan ketika masa Trenggono, terhadap Girindrawardhana, yang telah merebut Majapahit dari tangan Kertabumi.

Dan sebabnya pun bukan murni pertentangan agama, karena Demak kerajaan Islam dan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Budha. Melainkan karena Girindrawardhana berniat menyerang Demak, dengan meminta bantuan Portugis. Padahal kebijakan politik Demak, Portugis adalah lawan, dan siapapun yang bekerja sama dengan Portugis adalah ancaman. Maka dengan kekuatannya, pada tahun 1527, Demak menghancurkan Majapahit, dan Girindrawardhana terbunuh dalam serangan tersebut.

Sultan Trenggana terkenal dengan ekspansinya, yang ingin menjaga keamanan Pulau Jawa dengan menguasai pelabuhan di sepanjang pesisir utara. Dari mulai Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Lasem, Rembang, Gresik, hingga Pasuruwan.

Ekspedisi terakhir Trenggana terjadi pada tahun 1546, ketika hendak menaklukkan Panarukan yang masih dalam kekuasaan Blambangan. Sebab setelah Portugis gagal bekerjasama dengan Pajajaran dan Majapahit, mereka hendak bekerjasama dengan Blambangan. Untuk penguasaan barang dagangan, juga untuk menghadang serbuan Demak.

Maka pada tahun 1546 itu, tentara Demak dipimpin oleh Sultan Trenggana sendiri. Sebuah kekuatan yang luar biasa besar, seperti yang tertulis dalam catatan seorang Portugis, Fernau Mendes Pinto dalam bukunya “Peregniracao”. Bahwa kekuatan untuk menaklukan Blambangan, serbuan akan dimulai dari Panarukan.

Armada besar berkekuatan 1.000 kapal dan memuat tidak kurang dari 40.000 prajurit, berlayar dari Jepara pada tanggal 2 Februari 1546. Panarukan dikepung dari Pasuruwan selama 3 bulan. Namun dengan kekuatan dan strategi yang dimiliki Blambangan, Panarukan tak juga dapat dikuasai. Hingga kemudian kejadian remeh menyebabkan berakhirnya penyerbuan.

Yakni ketika pembantu Trenggana tak terima dengan tindakannya, membuat si pembantu membunuh Trenggana. Pembunuhan yang kemudian menjadikan tentara Demak kehilangan semangat, bahkan menghentikan penyerbuan terhadap Blambangan.

Begitulah sekelumit wawasan yang kudapatkan dari buku “Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaya” karya Paul Michel Munoz. Buku yang menceritakan tentang perkembangan sejarah dan budaya Asia Tenggara, sejak jaman prasejarah hingga abad XVI.

Dan sejarah Demak kemudian surut setelah peristiwa kematian Trenggana. Karena penerusnya tak bisa meneruskan semangatnya. Bahkan kemudian saling bertikai, berebut takhta, hingga Demak mengalami kehancurannya. Dan Portugis mulai bisa masuk ke Jawa, dengan menjadikan Blambangan sebagai pintu masuknya.

oleh Nassirun Purwokartun pada 1 Agustus 2011 pukul 9:26