Buka Buku 1: Berburu Babad Banten

Standar

TINJAUAN KRITIS TENTANG SEJARAH BANTEN

Setelah selesai menulis ‘Penangsang’ jilid 1, aku jadi tertarik dengan sejarah Cirebon dan Banten.

Karena ternyata, antara Demak dan Cirebon, erat kaitannya. Demikian pula kemudian dengan Banten. Sebab hubungan antara Demak dan Cirebon lah yang menjadikan adanya Kesultanan Banten.

Untuk sejarah Banten, aku langsung memburu buku lama karya besar Hoesein Djajaningrat, pakar sejarah Banten terkemuka. Sebuah buku yang pertama diterbitkan penulisnya sebagai disertasi untuk memperoleh gelar doktor dalam bidang Bahasa dan Sastra Nusantara, pada Universitas  Negeri Leiden, Nederland, tanggal 3 Mei 1913.

Buku yang aslinya berbahasa Belanda, berjudul ‘Critische beschouwing van de Sadjarah Banten, bijdrage ter kenschetsing van de Javaanshe Geschiedschidschijving’. Dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, menjadi ‘Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten, sumbangan bagi pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa’. Sebuah buku langka terbitan Harleem, Belanda tahun 1913 yang baru diterbitkan di Indonesia pada tahun 1983, hasil kerjasama LIPI dan KITLV.

Aku tertarik mencari buku ini, karena sepertinya buku itulah sumber paling lengkap untuk mengetahui sejarah Banten. Dari beberapa buku yang kubaca, ketika berbicara Banten, selalu mengacu pada buku itu. Sebuah buku yang disusun oleh pakar sejarah Banten, hasil dari penelitiannya atas analisa terhadap kitab sejarah ‘Babad Banten’ yang berjumlah tujuh buku yang berbeda-beda. Dari yang berhuruf pegon tanpa tanda baca, pegon dengan tanda baca, sampai yang dalam tulisan Jawa, dan tulisan latin. Dan dari semua naskah-naskah itu tidaklah lengkap, namun saling melengkapi.

Maka dengan mencari ke sana ke mari, aku benar-benar memburu buku luar biasa itu, untuk memahami sejarah Banten dengan lengkap. Karena bermula dari Demak dan Cirebon, kemudian Banten bisa menjadi kekuatan Islam. Adalah Fadhillah Khan, atau yang dikenal dengan Fatahillah, yang bekerja sama dengan Hasanuddin, anak Sunan Gunung Jati, yang kemudian menguasai Banten dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Yang setelah menguasai Banten, kekuatan dari Demak dan Cirebon pun mampu menguasai Bandar Sunda Kelapa, yang hendak diberikan Pajajaran pada Portugis sebagai imbalan jual beli lada hitam. Pengusiran Portugis itulah yang kemudian dijadikan hari jadi Jakarta, ketika Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta oleh Fatahillah.

Karena hubungan Demak-Cirebon-Banten yang erat itulah, aku perlu memperkaya bacaan untuk menuliskan novel Penangsang jilid kedua dan ketiga. Dan buku itu benar-benar memuaskan akan kebutuhan itu. Maka benarlah judul kecil buku itu, yang menjadi ‘sumbangan bagi pengenalan sifat-sifat penulisan sejarah Jawa’. Sebab selain bersandar pada pembacaan atas ‘Babad Banten’, penulisnya juga menghubungkan dengan kitab sejarah Jawa yang termasyur, ‘Babad Tanah Jawi’.

Hanya yang masih membuatku penasaran, adalah penyebutan dalam buku itu, bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah sosok yang sama. Dan konon, sumber inilah yang kemudian banyak mengacaukan pemahaman orang di kemudian hari. Padahal sepengetahuanku, mereka adalah dua orang yang berbeda.

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Juli 2011 pukul 8:25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s