Buka Buku 2: Mencari-Cari Sunan Gunung Jati

Standar

SEJARAH CIREBON

Karena dalam kisah Penangsang terdapat tokoh Sunan Gunung Jati, maka aku merasa harus menggali kisah hidupnya, agar dia ‘hidup’ dalam novel yang sedang kutulis.

Demikian juga dengan sosok Fatahillah, yang ternyata sangat berperan dalam pergolakan Demak, pada masa pemerintahan Sultan Trenggono.  Dari masa naik takhta, hingga kematiannya. Yang itu memang sejaman dengan kisah hidup Penangsang, sosok yang sedang kutulis novelnya.

Maka untuk memperdalam karakter kedua tokoh itulah, aku membutuhkan banyak referensi tentang mereka.  Sosok yang selama ini kuanggap satu orang, karena begitulah yang banyak diketahui orang. Bahwa Fatahillah adalah nama asli Sunan Gunung Jati, seorang ulama yang menyebarkan Islam di tatar Pasundan. Dan penyebutan Sunan Gunung Jati hanyalah nama bagi Fatahillah setelah meninggal, karena dimakamkan di Cirebon, di bukit Gunung Jati.

Namun dalam salah satu sumber bacaan, kemudian aku dapatkan pendapat bahwa keduanya adalah sosok yang berbeda. Silsilahnya berbeda, dan kisah hidupnya pun berbeda. Bahkan  di Astana Agung Gunung Jati, konon, terdapat dua makam mereka yang berbeda pula. Di puncak bukit adalah makam Sunan Gunung Jati, dan di sebelah timurnya terdapat makam Fatahillah.

Dan menurut pendapat itu, yang membuat rancu dan mengacaukan keduanya sebagai sosok yang sama, adalah karena keduanya sama-sama hidup di jaman yang sama, dan berdakwah di daerah yang sama, yakni seputar  Cirebon dan Banten.

Sunan Gunung Jati bernama asli Syarif Hidayatullah. Dia adalah cucu dari Prabu Siliwangi, karena ibunya adalah putri dari Raja Pajajaran tersebut. Syarif Hidayatullah yang menjadi kuwu di Cirebon, bahkan kemudian menjadi penerus Pajajaran setelah kematian Prabu Siliwangi.  Sebab sang putra mahkota, Prabu Cakrabuwana, adalah kakak ibunya yang juga sekaligus mertuanya sendiri. Maka begitu takhta Pajajaran jatuh kepada Cakrabuwana, kemudian diberikan lagi pada Sunan Gunung Jati, yang selain kemenakannya juga menantunya sendiri.

Sejak itulah, kerajaan Pajajaran yang berkuasa atas tatar Pasundan diteruskan oleh Kesultanan Cirebon, sebagai kekuasaan yang berlandaskan Islam. Persis seperti yang kemudian dilakukan Raden Patah, yang juga atas usul Sunan Gunung Jati, yang mendirikan Kesultanan Demak setelah runtuhnya Majapahit. Karena Raden Patah sendiri adalah putra dari Prabu Kertabumi, raja Majapahit terakhir.

Sementara Fatahillah adalah ulama dari Pasai, Aceh. Bernama asli  Maulana Fadhillah Khan Al Paseh, putra dari Maulana Makhdar Ibrahim Al Gujarat. Seorang ulama muda yang datang ke Demak, karena Pasai, kesultanannya dihancurkan oleh Portugis.

Fadhillah Khan kemudian membantu Sultan Trenggono, bahkan dinikahkan dengan adik sultan Demak tersebut. Dan dalam penggempuran Portugis di pelabuhan Sunda Kelapa, Fadhillah Khan diangkat menjadi panglimanya. Dengan siasat perang yang dirancang oleh Sunan Gunung Jati, dan bala tentara bantuan dari Cirebon dan Banten. Kedekatan Fadhillah Khan dengan Sunan Gunung Jati, karena ia kemudian menikah dengan putrinya, yakni janda dari Pati Unus.

Setelah keberhasilan menghancurkan Portugis itulah, Fadhillah Khan mengganti namanya menjadi Fatahillah, yang berarti kemenangan besar dari Allah. Sedangkan bandar Sunda Kelapa diganti namanya menjadi Jayakarta, yang juga bermakna kemenangan yang nyata. Dan hari itulah yang kemudian diperingati sebagai hari lahirnya kota Jakarta, pada 22 Juni 1527.

Sudah banyak buku yang kubaca tentang Cirebon dan Banten, juga tentang Sunan Gunung Jati dan Fatahillah. Yang itu semua untuk mendukung novelku, bahwa antara Demak, Banten, dan Cirebon adalah satu kesatuan. Selain juga untuk menguatkan pendapat, bahwa Sunan Gunung Jati dan Fatahillah adalah sosok yang berbeda.

Dan penguatan itu, kemarin kembali kudapatkan. Ketika jalan-jalan ke Jogja, aku menemukan buku langka yang sebenarnya sudah lama aku cari-cari. Buku tua berjudul ‘Sejarah Cirebon’, yang ditulis oleh Pangeran Soeleman Soelendraningrat, salah seorang keturunan langsung dari Sunan Gunung Jati.

Di buku tua terbitan Balai Pustaka tahun 1985, yang penulisannya melalui pengesahan dari Seminar Sejarah Jawa Barat tahun 1974, juga banyak hal yang baru kudapatkan. Termasuk soal penetapan hari lahir kota Cirebon, asal mula penamaan kota Cirebon, berikut hubungan antara Cirebon, Demak, dan Banten. Juga mengapa harus ada kesultanan Kasepuhan dan Kenoman, dan peninggalan-peninggalan sejarah lainnya, berikut tradisi-tradisi yang maih berkembang di Cirebon dan sekitarnya.

Aku merasa buku ini bernilai ‘lebih’ dibandingkan  buku-buku yang sebelumnya kubaca. Selain karena padatnya data sejarah, karena sumber yang berasal dari ‘Kitab Pustaka Caruban Nagari’ hasil karya Pangeran Arya Carbon. Dan pada buku-buku yang sebelumnya kubaca, sepertinya buku ini pun selalu menjadi acuan dari penulisan mereka. Terutama soal sosok Sunan Gunung Jati dan Fatahillah.

oleh Nassirun Purwokartun pada 4 Juli 2011 pukul 11:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s