Buka Buku 4: Sunan Kudus, Anti Kebudayaan Dan Tidak Toleran?

Standar

KUDUS PURBAKALA

Selama ini, orang seolah mengenal Sunan Kudus sebagai sosok ulama yang kaku dan keras. Bahkan banyak juga yang mengenangnya sebagai guru agama yang haus kekuasaan, karena telah menyuruh muridnya, Penangsang, untuk merebut kekuasaan atas takhta Demak.

Ibarat orang adu jago, Penangsang adalah jagonya Sunan Kudus, begitu Babad Tanah Jawi mengisahkan. Sementara Joko Tingkir, digambarkan sebagai jagonya Sunan Kalijogo. Maka penggambaran dua sosok Sunan itu pun seolah saling berlawanan dengan ekstrimnya. Sunan Kalijogo adalah ulama yang toleran dengan budaya Jawa. Sementara Sunan Kudus adalah ahli fikih yang tegas dan keras dalam berdakwah.

Karena keberadaan Sunan Kudus yang sangat berperan penting dalam konflik Penangsang, aku pun mencari banyak referensi untuk penulisan novelku. Maka bertemulah aku dengan sosok ulama yang (menurutku) sangatlah luar biasa. Bahwa ternyata, Sunan Kudus bukan hanya seorang yang paham fiqih agama saja, namun justru seorang ulama yang kompleks dengan beragam keahlian.

Sebagai anak Sunan Ngudung (panglima Demak era Raden Patah) dia menggantikan ayahnya, menjadi panglima di era Sultan Trenggono. Yang itu berarti, dia adalah ahli militer, yang keberhasilannya menghancurkan kekuatan Majapahit di masa Girindrawardhana. Sebagai menantu Sunan Bonang, dia mewarisi keahlian dan jabatan mertuanya menjadi penghulu Waliyyul Amri. Sebuah lembaga tertinggi (keberadaannya seperti MPR sekarang) yang bertanggungjawab atas jalannya pemerintahan Demak.  Dan dengan kedudukan tinggi itu (karena berhak mengangkat dan memberhentikan Sultan) berarti dia adalah juga seorang ahli politik dan pemerintahan.

Sementara sebagai pendiri kota Kudus, yang awalnya hanyalah desa kecil bernama Tajug, dia mampu membangunnya  dengan biaya sendiri. Kota bernama asli Al-Quds itu dibangun dengan biaya dari penjualan kayu jati di sepanjang Kudus-Jipang, untuk menjadi bahan pokok pembuatan kapal di negeri seberang. Yang berarti pula, dia adalah seorang saudagar yang jago ekonomi, sekaligus ahli tata kota.

Juga dengan pembangunan masjid Kudus, berikut beberapa gapura dan menaranya yang menjulang dan menjadi kebanggaan hingga sekarang, maka dia pun sebenarnya adalah seorang seniman atau arsitek. Karena pada bangunan itu, terdapat banyak warisan dari sentuhan tangan yang sara seni budaya.

Maka dengan menara yang bentuknya menyerupai candi Jago (makam Raja Wisnuwardhana) itu adalah bukti bahwa Sunan Kudus juga bukan seorang ulama yang tidak paham budaya. Karena meskipun yang dibangun adalah masjid, tapi bentuk menara yang menjadi tempat mengumandangkan adzan dan memukul bedug, tetap dibangun seperti bangunan dari kebudayaan lama sebelum Islam.

Juga di bawah menara itu, konon dulunya mengalir sebuah sungai bernama Kali Lanang, yang mata airnya dipancarkan dari dua sumber kembar Tirta Kamandanu (air kehidupan). Sumber air itu kemudian ditutup dan dibangun menara yang menjadi penyeru adzan untuk mengajak shalat. Sebuah pembangunan yang konon simbol dari berakhirnya dua aliran agama lama (Hindu-Budha) , dan munculnya aliran baru (Islam) yang bermakna bagi kehidupan sesungguhnya.

Dan aku beruntung mendapatkan gambaran lengkap sosok Sunan Kudus dari buku tua yang pernah kutemukan. Sebuah buku berjudul ‘Kudus Purbakala dalam Perjuangan Islam’ karya Solihin Salam. Buku terbitan Penerbit Menara Kudus tahun 1977, yang banyak menceritakan tentang keberadaan kota Kudus dalam sejarah perjuangan Islam di Jawa. Yang tentu saja tak lepas dari keberadaan Sunan Kudus sebagai pendiri kota tersebut.

Maka hapuslah kesimpulanku selama ini tentang sosok Sunan Kudus sebagai seorang ulama yang hanya paham ilmu agama saja. Juga seorang sunan yang hanya keras dan tegas menegakkan hukum agama, yang cenderung dianggap tidak toleran dalam kebudayaan dan berdakwah.  Karena setelah banyak kukaji dari banyak pembacaan, justru sosok yang sangat toleran.

Bukti paling mudah adalah di Kudus sampai sekarang masih banyak ditemui soto kerbau sate kerbau. Sebagai sisa ajaran Sunan Kudus yang  menganjurkan ummatnya untuk tidak menyembelih sapi, binatang yang sangat dihormati oleh penganut Hindu.

Dan itulah yang telah dijalankan Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam, sebagai rahmat semesta alam.

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Juli 2011 pukul 10:38

One response »

  1. Di mana cara mendapatkan buku :
    bukunya “Kudus Purbakala Dalam Perjoangan Islam”
    Penerbit “Menara”Kudus
    Pengarang Solichin Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s