Buka Buku 3: Walisanga, Ternyata 15 Orang?

Standar

WALISANGA TAK PERNAH ADA?

Selama ini, orang banyak meyakini bahwa Walisanga atau Wali Sembilan, adalah sosok penyebar Islam di pulau Jawa yang berjumlah 9 orang.

Dan pemahaman tentang keberadaan Walisanga pun hanya sebatas itu. Yang semua berdasar pada dongeng lisan dan cerita rakyat saja. Yang dalam dongeng tentang 9 wali penyebar Islam itu, lebih menonjolkan kehebatan mereka, yang cenderung penuh mitos dan mistik.

Kehebatan para ulama itu bukan pada keilmuannya tentang ajaran ketauhidan, namun pada kesaktiannya yang menjadikan mereka kemudian dikeramatkan. Dari mulai Sunan Ampel yang bisa melihat Masjidil Haram dari Surabaya, Sunan Giri yang mampu mengubah pena menjadi keris, Sunan Kalijaga yang setia menjaga tongkat hingga berbulan-bulan di tepi sungai sampai ditumbuhi semak belukar, Sunan Bonang yang merubah buah kolang-kaling setandan menjadi emas berlian, hingga Syekh Siti Jenar yang berasal dari seekor cacing tanah.

Aku termasuk orang yang risih dengan cerita magis mistik semacam itu. Yang menggambarkan para ulama sebagai sosok sakti yang tak pernah bisa tersakiti dan hidup bergelimang kesaktian. Padahal, mereka adalah para alim ulama yang menyebarkan pemahaman risalah Islam, suatu agama yang  sangat keras menentang kemusyrikan. Namun yang tersisa dari peninggalan mereka hari ini, justru sarat dengan klenik dan takhayul, yang sangat bertentangan dengan aqidah Islamiyah yang mereka sebarkan.

Maka salah satu tujuanku menulis novel Penangsang, adalah juga untuk menceritakan sosok Walisanga, sebagai sosok yang manusiawi. Bukan sosok magis dari negeri dongeng yang cenderung dimitoskan dengan beragam kesaktian mistis. Sebab kisah hidup Rasulullah sendiri, sang pembawa risalah Islam, yang lahir 9 abad sebelum era Walisongo sama sekali tidak mengenal mistik.

Untuk itulah, aku banyak mencari banyak referensi pendukung. Dan salah satunya kutemukan pada buku karya Syamsudduha, dosen Fakultas Ushluhuddin IAIN Sunan Ampel. Sebuah buku yang awalnya merupakan hasil penelitian atas dua manuskrip pegon, yakni ‘Serat Badu Wananar’ dan ‘Serat Drajat’. Dua buah naskah lama yang memberikan prespektif baru tentang istilah Walisanga dan perjuangannya dalam menyiarkan Islam di Jawa.

Penelitian penulis buku ini adalah membedah 2 naskah langka, yang memuat kisah hidup para Wali di Jawa secara komprehensif, tanpa dibumbui oleh hal-hal magis dan mistis. Selain juga memuat kisah perang antara Demak dan Majapahit, yang diceritakan secara dramatis.

Dan buku itu banyak mengungkap misteri yang selama ini ingin kuketahui. Salah satunya adalah tentang kehancuran Majapahit, yang selama ini banyak dipahami karena disebabkan oleh penyerangan Demak. Dalam buku ini, justru dijelaskan bahwa kehancuran Majapahit lebih disebabkan oleh kebobrokan di dalam Majapahit sendiri. Sejak mundurnya Gajah Mada, hingga perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg, yang kemudian menjadikan Majapahit terus dirundung pertikaian dari dalam.

Namun yang terpenting, dari buku ini aku mendapatkan banyak kisah tentang Walisanga, yang terbebas dari kisah mistik dan magis. Bahkan penyebutan Walisanga sendiri ternyata masih misteri. Karena konon, Walisanga berasal dari kata ‘wali’ dan ‘tsana’, yang berarti para ulama yang mulia dan terpuji.

Bahkan dalam kitab ‘Walisana Babadipun Para Wali’, penyebutannya bukan Walisanga, melainkan ‘Walisana’. Kata ‘sana’ berasal dari kata Jawa Kuna (asana, bahasa Sansekerta) yang berarti tempat bermukim atau tempat tinggal. Maka penyebutan nama para wali, memang lebih dikenal dengan tempat tinggal para ulama tersebut.

Dari buku itu pula, aku menjadi tahu, bahwa ternyata wali pada jaman Sunan Ampel tidak berjumlah 9, melainkan 15 orang. Maka tepatlah judul buku yang sangat memancing penasaran dan sarat pengetahuan itu: “Walisanga Tak Pernah Ada?”

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Juli 2011 pukul 7:54

2 responses »

  1. walisongo bukan hanya 9 orang penyebar islam
    namun itu adalah sebbutan bagi dewan yang menaungi urusan keagamaan (saat ini mungkin MUI) yang terdiri dari 9 orang, jika salah satu selesai tugasnya (wafat) maka akan digantikan dgn yang lain. adapun cerita mistiknya itu hanyalah kiasan pesan2 filosofis..
    contohnya: sunan giri mengirimkan pasukan tikus yang memakan padi prajurit majapahit. ini sebenarnya kiasan untuk menceritakan strategi sunan giri yang memotong jalur logistik prajurit majapahit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s