Buka Buku 5: Sunan Kalijaga Menjaga Kali Di Kalijaga?

Standar

ISLAMISASI DI JAWA

Karena menjaga sebatang tongkat di tepi kali, maka Sunan Bonang pun memberi nama padanya: Sunan Kalijaga.

Begitulah yang selama ini kita pahami, baik dari cerita rakyat, maupun dari film yang kita tonton. Bahwa Raden Said berganti nama menjadi Sunan Kalijaga, karena Sunan Bonang lupa perintahnya. Bahwa ia pernah memerintahkan brandal Lokajaya untuk menjaga tongkatnya, sebagai bukti pertobatan dan kesetiaan.

Dan sang perampok budiman yang berniat menjadi muridnya itu lalu disuruh untuk tidak berpindah dari tempatnya bersila di tepi kali, sampai ia kembali. Maka ketika teringat, Sunan Bonang datang  kembali menemuinya, dan menemukan seluruh tubuh Raden Said telah dirambati semak belukar. Karena kesetiaan itulah, Raden Said diterima menjadi santri Sunan Bonang, dan diberi nama Sunan Kalijaga.

Ada yang terus mengusik penasaranku selama bertahun-tahun pada kisah tersebut.  Karena yang kupahami, Sunan Bonang adalah anak Sunan Ampel sekaligus cucu Maulana Malik Ibrahin, dua ulama penyebar Islam pertama di Jawa. Dan Sunan Bonang sendiri, dengan keilmuannya yang mumpuni pada keagamaan dan pemerintahan, kemudian menggantikan Sunan Giri menjadi pemimpin Dewan Wali. Apakah mungkin sebagai seorang ulama, hanya untuk menguji pertobatan dan kesetiaan calon muridnya, memerintahkan hal yang tidak masuk akal? Menunggu tongkat di tepi kali, tidak boleh melakukan apapun, dan berdiam sendirian di tengah hutan hingga berbulan-bulan.

Kenapa tidak dengan mengajarkan syahadat dan sholat saja, misalnya. Atau hal-hal yang lebih mendidik sebagai tindakan seorang ulama, yang perintahnya lebih memberikan pencerahan. Dan penasaran sejak remaja itu terbawa sampai tua. Hingga kemudian meragukan kisah yang sudah sangat merakyat tersebut.  Sebuah kisah yang kemudian kuketahui merupakan petikan dari ‘Babad Tanah Jawi’.

Karena meragukan kisah itu, aku pun berusaha mencari jawabnya. Apalagi tokoh Sunan Kalijaga sangat berpengaruh dalam novel yang sedang kutulis. Menjadi ulama yang dalam pandangannya atas kebijakan Demak di era Trenggono sangat berbeda dengan Sunan Kudus, guru Penangsang.

Pertama aku menemukan jawaban, bahwa penamaan ‘Kalijaga’ adalah memang berasal dari ‘jaga kali’. Menjaga kali ditafsirkan sebagai kemampuan Sunan Kalijaga dalam menjaga aliran atau kepercayaan lama yang masih berkembang di masyarakat Jawa. Sebagai ulama, dia tidak menunjukkan sikap permusuhan, justru sangat toleran terhadap semua bentuk kebudayaan.

Pendapat lainnya mengatakan, bahwa ‘kalijaga berasal dari  kata ‘qadli dzakka’, yang berarti ‘penghulu suci’. Karena setelah menjadi murid Sunan Bonang, Sunan Kalijaga kemudian menjadi ulama juga.

Namun aku tetap kurang puas dengan dua pandangan tersebut. Karena dua pendapat itu hanya bersifat penafsiran saja, yang bisa dikatakan hanya bersandar pada perkiraan saja. Yang karenanya, boleh siapa saja menafsirkan sesuatu, yang tentu saja terserah yang menafsirkan.

Karena tetap penasaran, akupun terus mencari yang bisa menguatkan keyakinanku. Bahwa dalam penulisan tentang sosok wali, aku ingin menafsir ulang kisah-kisah para ulama penyebar Islam tersebut. Agar dalam novelku, keberadaan mereka terbebas dari cerita klenik, mitos, magis, dan mistis.

Sampai kemudian aku dapatkan buku berjudul ‘Islamisasi di Jawa’ karya Ridin Sofwan, Wasit, dan Mundiri. Buku terbitan tahun 2000 yang mengisahkan tentang ‘Walisongo, penyebar Islam di Jawa menurut penuturan Babad.’

Dalam buku itu kutemukan sedikit pencerahan jawaban atas penasaranku selama bertahun-tahun. Karena dalam ‘Serat Syekh Malaya’ terdapat bait pupuh Asmarandana: “Anulya kinen angasih, pitekur ing Kalijaga, mila karan kekasihe”. Serat yang konon karya Sunan Kalijaga sendiri itu menyebutkan: “Lalu disuruhlah ia, bertafakur di Kalijaga, oleh karena itulah disebut namanya.”

Dari bait ini terdapat kejelasan, bahwa Sunan Bonang memang memerintahkan Raden Said untuk bertafakur di desa yang bernama Kalijaga. Sebab dalam pupuh berikutnya, terlantun bait: “Wus telas denya wawarti, ajeng Sunan Bonang samna, jengkar sing Kalijagane.” Yang berarti, “Setelah  selsai memberikan petuahnya, Sunan Bonang waktu itu, berangkat dari Kalijaga.”

Sementara dalam ‘Serat Walisongo’ juga terdapat pupuh Pucung: “Inggalipun, wus raharjo ponang dukuh, kathah kang sami awismo, pradesane wus sawasri, sinung aran padukuhan Kalijaga.” Artinya: “Tempat tinggalnya, selalu makmurlah desanya, banyak yang nyaman menetap di sana, sebuah tempat yang asri, yang bernama desa Kalijaga.”

Maka dari penuturan kedua serat itu, terdapat keyakinanku, bahwa penamaan Kalijaga adalah karena Raden Said adalah ulama yang pernah berdakwah di desa Kalijaga. Karena penyebutan walisanga adalah berasal dari ‘walitsana’, yang berarti ulama yang dimuliakan di daerah tersebut. Dan desa Kalijaga, kini masih kita temukan di wilayah Cirebon.

Maka aku pun kemudian lebih menerima pendapat ini. Bahwa penamaan Sunan Kalijaga, karena Raden Said diterima menjadi murid Sunan Bonang. Dan kemudian disuruh menjaga amanahnya untuk berdakwah di Kalijaga. Dan bukan sekadar menjaga tongkatnya, tanpa melakukan kegiatan apapun juga.

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Juli 2011 pukul 22:59

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s