Buka Buku 11: Sastra Magi Babad Tanah Jawi!

Standar

KONSEP KEKUASAAN JAWA

Sejak lama aku dibuat penasaran dengan Babad Tanah Jawi. Salah satunya adalah tentang Penangsang, yang menjadi salah satu kisah bagian di dalamnya. Maka ketika kemudian kunovelkan, semangat yang kuangkat adalah membaca dengan tafsir ulang tentang kitab sejarah kekuasaan di tanah Jawa tersebut.

Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647”. Itulah buku cetakan Babad Tanah Jawi yang pertama kubaca. Yang  artinya “Inilah Sejarah Babad Tanah Jawa Sejak Nabi Adam Hingga Tahun 1647”. Yang pada covernya tertulis juga keterangan “Kaetjap wonten ing Tanah Nederlan Ing Taoen Welandi 1941” yang artinya adalah diterbitkan di Belanda pada tahun 1941.

Buku itu diterbitkan di Leiden oleh penerbit M. Nijhoff s’Gravenhage oleh W.L. Olthof. Sebuah penerbitan yang konon dulunya dimaksudkan bukan untuk maksud kesejarahan, namun untuk membantu calon-calon pegawai kebangsaan Belanda yang akan ditugaskan di Jawa.

Sejak pertama membaca, sebagai orang yang awam sejarah Tanah Jawa, aku mengamini saja apa yang dipaparkan. Bahwa apa yang dituliskan di dalamnya, adalah kronik sejarah yang benar terjadi di Jawa, sejak Nabi Adam hingga jaman Keraton Kartasura. Sebuah paparan sejarah panjang ribuan tahun, yang karenanya mustahil kalau disusun oleh seorang penulis saja. Konon, Pangeran Karanggayam, Pangeran Adilangu II, Tumenggung Tirtawiguna, dan Carik Brajalah yang dianggap sebagai penyusunnya.

Sampai dengan pembacaan selesai, penasaran akan kisah yang terangkai di dalamnya bukan menemukan kepuasan, malah justru semakin meragukan. Apakah benar, begitulah yang sebenarnya terjadi dengan segala kisah yang terbentang? Sebuah kisah, yang menurutku saat itu, lebih pantas dianggap dongeng daripada kisah sejarah yang bisa diyakini kebenarannya.

Lama aku bimbang untuk mempercayai kisah Babad Tanah Jawi dengan begitu saja. Juga untuk menelan mentah-mentah pengagungan dan pengultusan yang sara tertulis di dalamnya. Terutama tentang sosok Joko Tingkir, Panembahan Senopati dan Sultan Agung yang menurutku sarat kisah luar biasa.

Dan kebimbangan itu kemudian mulai menemukan jawabnya. Bahwa ternyata, babad memang berbeda dengan sejarah dalam pengertian biasa. Sebab sejarah lebih memaparkan kejadian seperti apa adanya, sementara babad memaparkan kejadian sebagai mana baiknya. Babad adalah sejarah dalam pengertian tradisional, bukan dalam pengertian modern. Karena itu, untuk mempelajari babad memerlukan sikap kritis yang istimewa. Seseorang yang mempelajari babad dituntut untuk mampu membaca yang tersirat, bukan sekedar mengeja cerita yang tersurat.

Dan paparan itu semakin menguatkanku untuk membaca Babad Tanah Jawi dengan menafsirkan yang tersurat. Sebuah pandangan yang kudapatkan dari buku lama berjudul “Konsep Kekuasaan Jawa, Penerapannya oleh Raja-Raja Mataram.” Buku karya Drs. G Moedjanto terbitan Kanisius tahun 1987 yang menerangkan dengan jelas tentang dinasti Mataram, dari Panembahan Senopati sampai dengan Paku Buwono dan Mangkubumi.

Diterangkan juga dalam buku itu, bahwa ternyata babad ditulis memang bukan untuk maksud sejarah, melainkan sebagai sastra magi, sastra sumber kesaktian raja. Babad ditulis sebagai sarana untuk melayakkan dan memberhakkan kedudukan raja atau keluarga yang memerintah. Dalam bahasa politik, babad ditulis sebagai sarana legitimasi.

Dan diingatkan pula, bahwa orang yang kurang terpelajar menerima babad sebagai kitab sejarah. Akan tetapi mereka yang terpelajar memperlakukan babad sebagai sejarah dalam pengertian tradisional, sebagai hasil penulisan sejarah yang tradisional juga.

Pujangga menulis babad melakukan penulisan sejarah tidak untuk menerangkan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lampau. Tetapi mereka menulis apa yang baik atau sebaiknya mengenai masa lalu untuk kelayakan masa kini, yaitu masa pujangga itu ditugaskan oleh raja yang tengah berkuasa. Jadi bagaimana sebaiknya masa lampau itu dipaparkan lebih benting daripada memaparkan bagaimana sebenarnya masa lampau itu terjadi.

Maka setelah meyakini hal itulah, ketakutanku untuk menuliskan novel Penangsang yang membalik kisahnya, seolah mendapatkan darah segar. Bahwa aku akan menulis kisah Penangsang dengan menafsirkan yang tersirat, bukan mengeja yang tersurat dari Babad Tanah Jawi. Bahwa Penangsang bukanlah pemberontak, dan Joko Tingkir tidak lebih berhak atas takhta Demak.

oleh Nassirun Purwokartun pada 13 Juli 2011 pukul 18:58

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s