Buka Buku 12: Sunan Kudus Versi Babad Tanah Jawi!

Standar

 

Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647

Karena sudah paham, bahwa Babad Tanah Jawi dibuat bukan sebagai buku sejarah, namun sebagai alat legitimasi penguasa, maka yakinlah aku pada kecurigaan yang meragukannya.

Sebab ternyata, Babad Tanah Jawi memang disusun bukan sebagai mana kebenaran sejarah. Tapi lebih pada bagaimana baiknya dan cocoknya sesuai kepentingan penguasa. Maka aku pun makin yakin untuk menuliskan Penangsang, dari sosok yang tersirat pada kisah Babad Tanah Jawi itu.

Tak heran, kalau di Babad Tanah Jawi kita akan menemukan sosok yang dihitamkan dalam sejarah. Salah satunya adalah ketokohan Penangsang dan gurunya, Sunan Kudus.

Sosok Sunan Kudus benar-benar tergambar sebagai tokoh di belakang kiprah Penangsang. Tokoh yang haus kekuasaan dan ambisius, bahkan menempuh segala cara, termasuk jalan keculasan.

Aku membacanya dari “Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647”. Tapi aku tuliskan beberapa petikan di sini, setelah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia saja.

Waktu itu Sunan Kudus sedang duduk-duduk di rumahnya dengan Pangeran Arya Penangsang. Sunan Kudus berkata pada Arya Penangsang, “Orang membunuh sesama guru itu hukumnya apa?” Perlahan jawab Arya Penangsang, “Hukumnya harus harus dibunuh, tetapi saya belum tahu siapa yang berbuat demikian itu.” Sunan kudus berkata, “Kakakmu di Prawata.” Arya Penangsang setelah mendengar perintah Sunan Kudus bersedia membunuh Sunan Prawata. (Halaman 46)

Sunan Prawata tadi mempunyai saudara perempuan bernama Ratu Kalinyamat. Dia begitu tidak terima atas kematian saudara laki-lakinya itu. Lalu berangkat ke Kudus bersama suaminya berniat meminta keadilan pada Sunan Kudus. Jawab Sunan Kudus, “Kakakmu itu sudah hutang pati kepada Arya Penangsang. Sekarang tinggal membayar hutang itu saja.” Ratu Kalinyamat mendengar jawaban Sunan Kudus itu sangat sakit hatinya. Lalu kembali pulang. Di tengah jalan dirampok utusannya Arya Penangsang. Suaminya dibunuh. (Halaman 47)

Pada suatu ketika Sunan Kudus sedang berbincang dengan Arya Penangsang. Sunan Kudus berkata, “Kakakmu Sunan Prawata dan Kalinyamat sudah mati. Tetapi belum lega rasanya kalau belum menguasai tanah Jawaa semua. Jika masih ada adikmu Sultan Pajang, saya kira tidak mungkin jadi raja, sebab dia adalah penghalang.” Arya Penangsang berkata, “Jika diperkenankan atas izin Sunan Kudus, Pajang akan saya gempur dengan perang, adik saya di Pajang akan saya bunuh supaya tidak jadi penghalang.” Sunan Kudus menjawab, “Maksudmu itu saya kurang setuju sebab akan merusak  Negara serta banyak korban. Adapun maksud saya, adikmu di Pajang bisa mati secara diam-diam saja, jangan banyak diketahui banyak orang.” Arya Penangsang menjawab sangat setuju. Lalu mengutus abdi pengawal untuk menculik dan membunuh Sultan Pajang. (Halaman 47 – 48)

Setelah mendengar laporan utusannya, Arya Penangsang sangat sedih. Ia lalu memberi tahu Sunan Kudus, bahwa utusannya yang membunuh Sultan Pajang tidak berhasil. “Jika diperkenankan Sultan Pajang sebaiknya dipanggil saja ke Kudus. Berdalih untuk diajak bicara bab ilmu. Jika sudah sampai di sini, mudah untuk membunuhnya.” Sunan Kudus mengabulkan permintaan Arya Penangsang itu. (Halaman 48 – 49)

Itulah beberapa petikan dari Babad Tanah Jawi yang alur ceritanya seolah telah menjadi hafalan bagi orang Jawa, karena seringnya dipanggungkan dalam kethoprak. Suatu cerita, yang aku ragukan kebenarannya, karena mungkin saja ini adalah tindak penghitaman saja dari pihak yang menang.

Apalagi konon, cikal bakal Babad Tanah Jawi yang ditulis pada masa Kartasura itu, sebenarnya sudah dibuat oleh Pangeran Karanggayam atas perintah Joko Tingkir.

oleh Nassirun Purwokartun pada 14 Juli 2011 pukul 11:56

2 responses »

  1. ternyata anggapan anda benar..babad tanah jawa..cerita kepentingan yg berkuasa…,bukti nya…arya penangsang tidak mati dibunuh di tanah JAWA….melain kan di tanah sumatera selatan…dalam keadaan telah menjadi sufi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s