Buka Buku 15: Mengeja Makna Di Balik Legenda Walisanga

Standar

SEKITAR WALISANGA

“Setiap bentuk dan bagian bangunan yang ada di masjid Demak ini, semua mengandung makna dan pelajaran kehidupan,” begitu ucap juru kunci Masjid Agung Demak, ketika aku ke sana, untuk melihat makam Penangsang.

Dan lelaki itu pun menerangkan beberapa bentuk bagian bangunan yang dimaksudkan. Terutama adalah perihal saka tatal yang sangat terkenal fenomenal. Tiang utama masjid Demak yang salah satunya konon hasil karya Sunan Kalijaga, yang dibuat dengan mengumpulkan bilahan-bilahan kayu yang tidak terpakai. Bilah-bilah yang ditata rapi membentuk tiang, dan diikat menggunakan tali dari jalinan rumput.

“Kumpulan tatal-tatal itu memberikan pelajaran tentang kesatuan. Bahwa dengan bersatu, ummat Islam bisa maju. Sementara ikatan tali itu melambangkan tentang perlunya berpegang pada tali Allah. Karena dengan tali Allah yang kuat, maka manusia akan selamat dunia akhirat,” demikian ia melanjutkan.

Ketika mendengarkan pemaparan itu, ingatanku jadi terkenang pada sebuah buku yang pernah kubaca. Buku tua berjudul “Sekitar Walisanga” karya Solihin Salam, yang terbit pertama tahun 1960. Buku yang secara tidak langsung memberikan pemahaman awal untuk tidak menelan begitu saja legenda yang ada ddalam kisah Walisanga. Salah satunya adalah tentang saka tatal, dan juga penentuan arah kiblat.

Bahwa konon masjid Demak sudah berdiri, namun ternyata para wali masih berdebat tentang arah kiblat. Karena soal penentuan itu tidak dibahas sebelum membangun. Mereka saling mengajukan pendapat, sementara masjid sudah berdiri. Perdebatan pun riuh, karena terjadi banyak pendapat yang saling bertentangan. Namun, kemudian dengan bijak Sunan Kalijaga tampil memberikan penyelesaian. Sunan Kalijaga bersedia menentukan arah kiblat, dengan cara tangan kanan memegang Ka’bah di Makkah sementara tangan kirinya memegang puncak masjid Demak.

Peristiwa itu mestinya jangan dipahami begitu saja kejadiannya, begitu buku itu mencoba menerangkan. Bahwa ternyata, kisah yang melegenda itu pun sebuah kiasan yang sarat pemaknaan pembelajaran. Bahwa perihal perdebatan soal kiblat, adalah perlambang dari persoalan iman. Sebab kiblat Ka’bah adalah tempatnya orang muslim menghadapkan wajah ketika shalat. Sedangkan masjid Demak menjadi perlambang orang Islam di Jawa. Sementara puncak masjid Demak dimaksudkan sebagai pemukanya pamong praja, atau penguasa.

Dengan demikian, kisah tersebut diartikan bahwa Islam yang bermula dari Makkah, harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat Islam di Jawa dalam permulaan perkembangannya. Dan dengan berdirinya masjid agung Demak, yang akan menjadi pusat penyebarannya. Dengan kesultanan Demak sebagai penguasa yang akan menjadi pelindungnya.

Kisah lainnya lagi adalah tentang baju Ontokusumo yang dalam legenda merupakan baju pemberian Nabi Muhammad yang dibungkus dengan kulit kambing. Yang telah dipakai oleh beberapa wali, namun ada yang terlalu longgar, dan ada yang terlalu sesak. Namun ketika dipakai oleh Sunan Kalijaga, baju itu ternyata sangat pas di badannya.

Legenda itupun katanya, haruslah dimaknai bahwa baju Ontokusumo tersebut adalah agama Islam  itu sendiri. Dikatakan sebagai bekas pakaiannya Nabi Muhammad, artinya dahulu yang membawa risalah ajaran Islam itu adalah Nabi Muhammad. Dan dibungkus kulit kambing maknanya adalah ajaran Islam itu sangatlah sederhana, hingga penyampaiannya pun dengan penuh kesederhanaan.

Lalu perihal banyak wali yang memakai namun tidak cocok, digambarkan sebagai metode pengajaran yang tidak tepat bagi rakyat Jawa. Dan barulah ketika Sunan Kalijaga yang menyebarkan dengan caranya yang tidak longgar dan tidak ketat, menjadi tepat dengan budaya masyarakat Jawa. Sebuah kisah yang ketika kubaca seolah lebih pada pemujaan terhadap Sunan Kalijaga.

“Jadi jangan menelan mentah-mentah cerita tentang para ulama, selalu ada makna yang terkandung di dalamnya. Dan baju Ontokusumo itu adalah makna untuk menjaga ajaran Islam di Jawa, dan itu bukan sebuah pusaka yang harus dijaga atau bahkan dikeramatkan. Tapi sebuah syiar yang harus kita selalu sebarkan.”  Demikianlah pesan juru kunci masjid Demak ketika aku hendak berpamitan.

Dan mendadak, dalam kenanganku teringat pada baju Ontokusumo yang dimaksudkan. Yang masih sekarang tersimpan di keraton Jogja, yang konon selalu dipakai oleh raja dalam perayaan Sekatenan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 17 Juli 2011 pukul 9:43

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s