Buka Buku 17: Kisah Tragis Kematian Trenggono

Standar

 

KERAJAAN DEMAK

Dengan menulis, maka kita akan banyak belajar.

Dulu kalimat itu hanya kuanggap sekadar kata mutiara. Namun sekarang kurasakan kebenarannya. Sebab hanya untuk menuliskan sebuah novel “Penangsang” saja, aku jadi harus membaca puluhan buku. Dan dari proses pembacaan itu, aku mendapatkan banyak pengetahuan. Itulah pembelajaran.

Karena novel yang kutulis ini bermula dari kisah terbunuhnya Sultan Trenggono, maka aku pun mencari keterangan perihal peristiwa tersebut. Paling tidak kronologi kejadiannya, serta penyebab kematiannya. Karena konon berbeda dengan raja Demak sebelumnya, yang meninggal di dalam kerajaannya.

Raden Patah, raja pertama yang naik takhta di usia 23 tahun, meninggal karena usia tua, 63 tahun, setelah memimpin selama 40 tahun. Sementara penggantinya, Pati Unus hanya memimpin selama 3 tahun, karena wafat di usia muda (21 tahun) disebabkan sakit yang dideritanya. Sedangkan kematian Sultan Trenggono berada jauh dari Demak. Ia meninggal di medan peperangan sebagai seorang panglima. Konon di depan benteng Panarukan, ketika hendak menaklukkan Blambangan.

Meninggal dalam pertempuran, begitulah keterangan yang pertama kudapatkan. Maka bayanganku pun, meninggal ketika berperang, bertarung dengan musuh, atau terbunuh oleh lawan. Entah karena tertusuk tombak, atau tertikam pedang, bahkan mungkin terkena serbuan anak panah.

Maka aku sempat tidak percaya, ketika dalam novel “Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer, justru kubaca bahwa terbunuhnya Trenggono karena ditusuk keris oleh seorang bocah. Anak kecil yang dalam cerita Pram, adalah sahabat akrab Gelar, anak Wiranggaleng, tokoh utama novel itu. Dia membunuh Trenggono di dalam tenda pasukannya. Dan Gelar lah yang menyuruh anak itu, karena dia ingin membalaskan dendam ayahnya pada Trenggono.

Aku menganggap aneh cerita Pram, karena benar-benar membuyarkan bayanganku tentang kisah kematian dalam medang pertempuran. Hingga lama juga aku menyimpan penasaran tentang kisah itu. Sebab bagaimana pun, meski novel “Arus Balik” adalah novel sejarah, atau novel dengan latar sejarah, tetap saja ia merupakan karya fiksi. Bukan buku sejarah, yang bisa dipercaya kebenaran sejarahnya. Jadi bisa saja, kisah kematian Trenggono hanyalah imajinasi seorang Pram yang sinis pada sosok Trenggono. Apalagi dalam novel itu sangat jelas terlihat pandangannya yang sebelah mata terhadap Demak.

Sampai kemudian aku mendapatkan buku lama di kios loakan, sebuah manuskrip karya Gusti Raden Ayu Brotodiningrat. Dalam bentuk fotokopian dengan tulisan ketikan tangan, berjudul “Kerajaan Demak” yang sepertinya belum pernah diterbitkan. Buku tipis setebal 60 halaman yang menggunakan bahasa Jawa sebagai penuturannya. Berisi lengkap tentang sejarah Demak, sejak berdiri hingga keruntuhannya, mulai diperintah oleh Raden Patah sampai dengan Sunan Prawoto.

Dalam buku itu, kisah kematian Trenggono tertulis jelas kronologis dan penyebab kematiannya. Namun karena ada beberapa istilah Jawa yang aku belum paham, aku pun sempat bertanya pada beberapa orang. Bahkan buka kamus segala untuk sekadar mencari kata dan istilah tersebut.

Dan inilah kejadian pembunuhan itu, setelah kuterjemahkan semampuku.

“Pada suatu kali Sultan Trenggono menggelar pertemuan dengan para pemimpin prajurit untuk menyerang benteng Panarukan. Ia sudah mendapatkan bekal keterangan yang diperoleh dari prajurit Panarukan yang saat itu telah menjadi tawanan Demak.

Di sela-sela pembahasan, Sultan Trenggono meminta pada pembantunya untuk mengambilkan pinang-sirih kegemarannya. Namun pembantunya yang masih bocah itu seolah tidak mendengarnya, karena sedang turut memperhatikan pembicaraan yang tengah berlangsung seru dalam pertemuan tersebut.

Sampai berulang Sultan Trenggono memanggil pembantunya itu. Hingga ada seorang pemimpin pasukan yang duduk dekat si pembantu, mengulang perintah Sultan Trenggono dan menyampaikannya. Barulah bocah laki-laki itu datang mendekat membawakan nampan pinang-sirih pada sang Sultan.

Karena kesal perintahnya tidak segera didengar, Sultan Trenggono memukul lirih kepala si bocah. Pukulan ringan sekadar peringatan agar lebih bisa memperhatikan permintaannya, sebagai tugas yang telah menjadi tanggungjawabnya.

Namun bocah berusia sepuluh tahun itu justru merasa malu dan marah dengan pemukulan itu. Mendadak dicabutnya sebilah golok dari ikat pinggangnya. Dan ditikamkannya dengan keras ke dada Sultan Trenggono. Sultan Demak pun terjengkang dengan dada bersimbah darah.”

Kisah itu pula yang kemudian kutulis dengan dramatis dalam novelku.

Dan kisah itu pula yang kemudian banyak yang menanyakan kebenarannya padaku. Persis seperti ketidak percayaanku dulu pada kisah yang tertulis di novel “Arus Balik”. Karena bagaimana pun, novel “Penangsang” adalah karya fiksi. Jadi sangat wajar kalau ini pun dianggap sebagai sekadar imajinasi.

Namun setelah ada yang meragukan, bahkan berpendapat bahwa kisah itu pun sebenarnya hanya cerita kiasan, aku sekarang jadi tambah penasaran. Dan makin semangat lagi untuk lebih banyak belajar. Karena aku sudah meyakini, menulis memang benar-benar belajar.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Juli 2011 pukul 7:53

10 responses »

  1. Ass.
    Yang aq tahu dr membaca sejarah bahwa raden trenggono meninggal terbunuh oleh arya penangsang, karena hukum karma yg sebelumnya raden trenggono memerintah parjuritnya untuk membunuh ayah dr arya penangsang yaitu raden lepen/kikin saat raden kikin seusai salat jumat yang mana saudara satu ayah beda ibu raden trenggono, karena perebutan tahta demak..akibat ulahnya raden trenggono raden arya penangsang didukung sunan kudus untuk menghukum sultan trenggono karena siapa yang membunuh seorang muslim apalagi satu guru haruslah dibunuh..dan stelah kematian sultan trenggono, arya penangsang semestinya yang harus memimpin demak yang sah, tetepi raden prawoto anak dr raden trenggono tidak menerima ayahnya dibunuh o/ arya penangsang, maka ia membalas dendam dengan membunuh arya penangsang yg sebelumnya raden prawoto dihasut oleh ratu kalinyamat tiada lain bibinya, adik dr raden trenggono. Kesimpulan disini terjadi perebutan tahta demak antar saudara setelah kematian raden fatah, antara trenggono dan raden kikin/lepen, dengan terpengaruh nafsu hingga terjadilah bunuh membunuh, sampai anak”nya pun saling membela orangtuanya.hingga disinilah mula perpecahan antara wilayah jipang(cepu blora) dan pajang ( kesultanan mataram)…
    Maaf kalo salah dlm sekelumit sejarahnya.

  2. emang gitu yaa ceritanya..??,
    berarti sultan trenggono itu bukan seseorang yang sakti dong, , mampu dibunuh dengan golok biasa saja..,

    ,siip broow , sangat bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s