Buka Buku 18: Tentang Perempuan Rambut Panjang Yang Bertapa Telanjang

Standar

 

PERANAN RATU KALINYAMAT DI JEPARA PADA ABAD XVI

Bertapa telanjang di bukit Danaraja, hanya menutup tubuh dengan rambut panjangnya. Itulah yang terkenang dalam ingatan kita tentang Ratu Kalinyamat.

Sosok Ratu Kalinyamat sangat berperan penting dalam konflik Demak. Karena dialah yang berperan dalam kekerabatan Demak, setelah kematian ayahnya, Sultan Trenggono. Dia juga yang turut mendampingi Prawoto, adiknya yang buta dan sakit-sakitan, yang kemudian diangkat menjadi Sultan Demak keempat.

Maka ketika Prawoto terbunuh, dan yang dituduh adalah Penansang, kemarahan Ratu Kalinyamat pun sangat menggelora. Kemudian ditambah dengan kematian suaminya, Hadiri, yang konon juga dibunuh oleh Penangsang, membuat perempuan itu pun memendam dendam. Hingga kematian Penangsang pun sangat diinginkannya. Bara kesumat yang kemudian melegenda dalam ingatan orang Jawa.

“Ratu Kalinyamat semakin sedih, karena adiknya baru saja meninggal, kemudian suaminya. Kemudian ia bertapa telanjang di bukit Danaraja. Rambutnya diurai sebagai penutup badannya. Dan bersumpah, tidak akan memakai busana selama hidupnya,  jika Penangsang belum meninggal.” Begitu Babad Tanah Jawi mengisahkan.

Sementara dalam Babad Demak, tertulis dalam tembang Pangkur (yang terjemahannya adalah), “Ratu Kalinyamat meninggalkan rumah untuk bertapa di atas bukit. Bertapa telanjang berkain rambut di atas gunng Danaraja. Dan bersumpah tidak akan memakai kain, sebelum memperoleh keadilan Tuhan, atas meninggalnya saudara dan suaminya.”

Karena tokoh Ratu Kalinyamat berperan penting, maka aku pun memperdalam pengetahuanku tentangnya, sebagai bekal menulis novelku. Dari beberapa catatan, Ratu Kalinyamat adalah putri sulung Sultan Trenggono yang bernama asli Retno Kencono. Mendapat sebutan Ratu Kalinyamat karena dia berkuasa atas Jepara, dengan membangun keraton di Kalinyamat.

Sejak kecil dia dibesarkan di Jepara, dalam asuhan neneknya, Ratu Asyiqah. Neneknya itu adalah istri Raden Patah yang juga anak dari Sunan Ampel. Yang dari rahimnya melahirkan Trenggono dan juga Pati Unus. Konon sebelum Pati Unus menjadi Sultan Demak, dia pun pernah menjadi adipati Jepara. Dan ketika menjadi Sultan, Jepara diserahkan pada Ratu Kalinyamat dan suaminya, Hadiri.

Karena Ratu Kalinyamat dididik langsung oleh anak Sunan Ampel pastilah warna Islam yang ada dalam pola asuhnya. Kehidupan menjadi seorang muslim tentu telah menjadi bagian hidupnya sejak kecil. Maka aku menjadi meragukan kisah yang ada dalam Babad Tanah Jawi, tentang Ratu Kalinyamat yang bertapa telanjang itu.

“Apakah wajar dendam seseorang yang paham agama, ketika ditinggal mati adik dan suaminya bisa membuatnya bertindak melanggar norma? Dari seorang muslimah menjadi hilang kesusilaan dan melecehkan kehormatannya?” Begitu yang kemudian berkecamuk dalam pikiranku.

Dan penasaran itu sedikit terobati ketika membaca buku “Perananan Ratu Kalinyamat di Jepara pada Abad XVI”. Sebuah buku terbitan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2000, yang juga salah satu bagian dari Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional (Proyek PKSN).

Dalam buku itu sempat diulas bahwa “tapa wuda sinjang rema” (bertapa telanjang berkain rambut) hanyalah kisah kiasan belaka. Bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang bangsawan kaya raya, sebagai penguasa Jepara yang telah menjadi pelabuhan utama Demak. Namun dengan kekisruhan yang berlangsung di Demak, dengan korban adik dan suaminya, ia sangat prihatin. Untuk itulah ia butuh merenungkan semua yang terjadi dalam perebutan takta peninggalan ayahnya tersebut.

“Wuda” dalam bahasa Jawa tidak hanya bermakna telanjang. Tetapi dapat juga berarti kiasan dari tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian kebesaran. Maka “telanjang” dalam bertapanya Ratu Kalinyamat adalah ia ingin melepaskan semua “perhiasan-pangkat-jabatan-keningratan” yang selama ini melekat padanya. Ia akan mencoba melepaskan semua, dan meminta petunjuk pada Yang Kuasa.

Dan dengan melepaskan beban itulah, ia bisa berpikir jernih. Karena dengan kekisruhan yang melanda Demak, ia merasa harta dan takhta yang ada pada dirinya tak membantu banyak. Maka ia pun melepaskan semuanya. Telanjang dari harta dan takhta.

oleh Nassirun Purwokartun pada 23 Juli 2011 pukul 15:48

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s