Buka Buku 21: Karena Kaya Rempah, Kita Jadi Bangsa Terjajah

Standar

 

SEJARAH MALUKU

Setelah menjajah Malaka, Portugis kemudian menjarah Maluku.

Jazirah Al-Mulk atau Kepulauan Raja-Raja yang penghasil rempah-rempah direbutnya dengan gemilang. Portugis pun menguasai seluruh hasil bumi dari Pulau Rempah-Rempah. Hingga pada kurun masa itu, pulau-pulau di Maluku dikenal di seluruh dunia sebagai Pulau Rempah-Rempah, atau yang akrab disebut Spice Island.

Kepulauan Rempah-Rempah Maluku benar-benar telah ditaklukan dengan licik oleh mereka. Hingga semua hasil rempah dikuasai sendiri dengan rakus dan serakah. Bahkan tak diperbolehkan ada saudagar dari bangsa lain yang turut membelinya. Termasuk saudagar Jawa, Cina, India, Spanyol, apalagi dari Moor yang telah menjadi musuh bebuyutan mereka.

Moor pada awalnya adalah sebutan dari Portugis untuk bangsa Maroko yang beragama Islam. Namun kemudian sebutan ini dilekatkan pada seluruh bangsa yang beragama Islam, sebagai label kebencian mereka.

Bahkan demi menguasai bunga cengkeh dan pala, Portugis menggelar perang bagi sesiapapun yang mendekat ke Maluku. Termasuk Spanyol, yang sesungguhnya adalah sekutu mereka. Namun perebutan rempah-rempah telah membuat keduanya saling menghancurkan. Maka pangkalan prajurit dengan benteng pertahanan yang kokoh dibangun di sepanjang pantai Ternate dan Tidore. Berikut gudang-gudang besar berderet sebagai tempat penyimpanan semua hasil rempah dari kepulauan itu.

Kerugian yang sangat besar pun kemudian diderita oleh saudagar bangsa lainnya. Hingga jalur perdagangan rempah menjadi terhenti total dengan kerakusan Portugis. Semua rempah dengan serakah dimilikinya sendiri, sebagai ‘buah emas’ yang sangat menggelembungkan pundi-pundi kekayaan negerinya.

Buah emas adalah nama julukan untuk rempah-rempah karena kedudukan dan harga cengkeh dan pala pada saat itu di pasaran Eropa hampir setara dengan ‘emas hitam’ (para budak) dari Congo atau bahkan ‘emas murni’ milik suku Actec dan Inca.

Maka tak ada lagi cengkeh dan buah pala yang datang ke Jawa, untuk bertukar dengan beras dan lada. Semuanya terpasok ke satu jurusan, perairan Malaka, untuk kemudian dibawa ke daratan Eropa sebagai barang dagangan paling laku di sana. Dengan harga yang telah ratusan bahkan ribuan kali lipat dari harga semula.

Pembelian rempah-rempah di Maluku untuk lima puluh kilogram cengkeh hanya seharga 1-2 dukat. Namun ketika sampai di Malaka terjual hingga 10 kali lipat harga di Maluku, menjadi kisaran 10-20 dukat. Sementara makin ke barat, harganya makin naik.

Kapal Magellan “Victoria” adalah yang pertama membawa cengkeh langsung dari Maluku ke Eropa. Di sana ia menjual dengan keuntungan 2.500 persen.

Sekadar perbandingan, bahwa pala dibeli dengan harga sangat murah dan dijual dengan luar biasa mahal. Pada abad 17, pala dibeli 5 sen per kilogram pada VOC, dan dijual di Eropa 10 gulden. Sehingga keuntungan yang diperoleh lebih dari 300 kali lipat. Hingga dari sekali penjualan, konon VOC dapat membangun 11 buah kapal besar sekaligus.

Bahkan di abad 18, VOC mencatat keuntungan lebih dari satu juta gulden tiap tahun. Pembelian pala sebesar 2,6 stuifer per kilogram dengan harga penjualan sampai 150 stuifer, maka keuntungannya sampai 1.600 persen. Hasil keserakahan raksasa dalam jangka panjang itu menyebabkan Belanda mampu membangun kota Amsterdam, Rotterdam, dan kota-kota lain berikut infrastrukturnya.

Dalam suatu peperangan di tahun 1810, ketika VOC dikalahkan Inggris, tiga gudang pala dirampas seharga satu juta pounsterling. Uang pala rampasan ini digunakan oleh Inggris, cukup untuk operasi militernya menduduki kota-kota di nusantara, seperti Batavia, Ternate, Ambon, dan Banda.

Begitulah sedikit gambaran tentang kerakusan Portugis terhadap rempah-rempah. Hingga penjajahan atas Malaka dan Maluku bermula di nusantara. Seperti yang kudapatkan pada sebuah buku karya Des Alwi, “Sejarah Maluku”. Buku yang berkisah bahwa karena rempahlah, nusantara menjadi tujuan penjajah dan penjarah.

Hingga Kesultanan Demak bersemangat hendak mengusirnya, di mana pun Portugis menginjakkan kakinya di nusantara.  Maka setelah gagal menyerang Portugis di Malaka, Demak pun memberangkatkan armadanya untuk menyerbu Portugis di kepulauan Maluku.

oleh Nassirun Purwokartun pada 25 Juli 2011 pukul 7:55

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s