Buka Buku 22: DURCH BLUT UND EISEN

Standar

 

PORTUGIS DAN SPANYOL DI MALUKU

“Saya datang untuk orang-orang Kristen dan rempah-rempah!’

Begitu pidato komandan Portugis, Vasco da Gama ketika menggempur dan menghancurkan Calicut pada tahun 1498. Maka dengan bergairah mereka pun menyebarkan ajaran Salib pada setiap negeri yang mereka jajah, dari Goa hingga Malaka. Kemudian dengan serakah pula, mereka pun memonopoli rempah-rempah, sejak Malaka sampai Banda.

Dan kebencian pada bangsa Islam terus dikobarkan, dengan merampok kapal-kapal dagang Islam dan membakarnya. Bahkan setelah menghancurkan Kesultanan Malaka dan merebutnya, Portugis pun menggempur Kesultanan Pasai. Keberingasan makin mengundang kebencian rakyat Malaka, ketika untuk membangun benteng pertahanan, Portugis menghancurkan makam kerajaan. Nisan-nisan para bangsawan dijadikan batu pondasi untuk mendirikan bangunan. Sebuah tindakan pelecehan yang seolah disengaja untuk terus menunjukkan kebencian dan permusuhan.

Maka ketika mereka menjajah Maluku dan menjarahnya, Portugis pun menerapkan jalan perang dalam berdagang. Bahkan mereka pun menerapkan jalur pemerintahan melalui besi dan darah, “durch Blut und Eisen”. Menegakkan kekuasaan dengan keberingasan dan kebuasan.

Tercatat dalam sejarah, 19 gubernur Portugis yang pernah berkuasa di Maluku semuanya menegakkan kekuasaannya melalui jalan besi dan darah. Gubernur pertama, Antonio d Brito (1522-1525) memulai pemerintahannya dengan menyerang Tidore dengan alasan sepele. Dengan bantuan dari Ternate, Portugis menyerang Tidore dan membumihanguskan kerajaannya.

Gubernur Portugis yang tangannya paling berdarah adalah Tristao de Atayde (1534-1537). Ketika Kesultanan Bacan menolak permintaannya menyerahkan cengkih, ia langsung menyerang kerajaan itu, dan menghancurkan kerajaan hingga rata tanah. Ia juga memerintahkan pasukannya membongkar pemakaman kerajaan. Tulang belulang dikeluarkan dan mengancam akan  menggergaji dan menghancurkannya, kalau Sultan Bacan tidak menebusnya dengan rempah-rempah. Setelah pembayaran tebusan selesai, tulang kembali dikuburkan, namun Kesultanan telah hancur berantakan.

Setelah menghancurkan Bacan, kemudian menyerang Jailolo. Sultan Jailolo yang sebelumnya bekerja sama dengan Spanyol, dianggap hendak mendepak Portugis dari Maluku. Sultan Jailolo yang sakit-sakitan dibawa ke benteng Ternate dengan alasan untuk disembuhkan. Namun sejak itu, ia tak pernah kembali ke Jailolo, bahkan hilang tak tentu rimbanya. Sementara sebagai pengganti Sultan Jailolo, Portugis mengangkat Sultan yang baru, dengan perjanjian untuk tunduk pada Portugis.

Selain beringas menggempur dan menghancurkan kekuatan Kesultanan Islam di Maluku, Portugis juga gemar berlaku kejam agar ditakuti rakyat. Gubernur Jorge de Menezes (1527-1530) adalah gubernur yang lemah dalam kepemimpinan, miskin pengalaman dan tidak berbakat. Untuk menutupi semua itu, dalam memerintah ia berlaku kejam agar terlihat berwibawa dan ditakuti rakyat.

Suatu hari, paman Sultan Bayan, Kaicil Vaidua dituduh membunuh seekor babi milik Cina Portugis. Ia ditahan dan ditangkap. Namun atas permintaan Sultan Bayan, Vaidua kemudian bisa dibebaskan. Tetapi ketika meninggalkan benteng tahanan, de Menezes menyemir tebal pada wajah dan mulut Vaidua dengan lemak babi. Padahal de Menezes tahu bahwa Vaidua seorang muslim yang taat.

Kekejian lainnya terjadi, ketika suplai logistik dari Malaka datang terlambat ke Maluku. Ia memerintahkan pasukannya berkeliling Ternate mencari bahan makanan. Maka perampasan bahan pangan pun terjadi di Tobona. Terjadilah perlawanan rakyat, yang menyebabkan beberapa tentara Portugis terbunuh.

Namun de Menezes tidak terima. Sangaji Tobona, pemimpinnya ditangkap. Dengan penuh kekejian, kedua telapak tangan Sangaji dipotong, lalu lengannya diikat ke belakang punggungnya. Dua ekor anjing galak dilepaskan untuk mencabik-cabik tubuhnya. Sangaji membela diri, dengan menggigit balik anjing-anjing itu. Namun dengan kedua telapak tangan terpotong, dan lengan  terikat tak bisa berbuat banyak. Akhirnya ia pun mati, dan mayatnya menjadi makanan anjing buas yang kelaparan, dan tulangnya dibuang ke laut.

Dan daftar kekejian Portugis masih sangat banyak selama mereka menjajah. Begitulah sedikit yang kudapatkan ketika membaca buku “Portugis dan Spanyol di Maluku” karya M. Adnan Amal. Buku yang bertutur detail tentang kekejian Portugis dalam menyebarkan agama dan menjarah rempah-rempah.

Maka tak heran kalau Demak saat itu, sebagai kerajaan Islam terbesar di nusantara sangat geram dan marah. Hingga memberangkatkan armada perangnya pada tahun 1546 ke Maluku untuk membelanya dan mengusir Portugis. Sebuah usaha yang akhirnya memang menemui kegagalan. Karena tepat saat itu, Sultan Trenggono terbunuh di Panarukan. Dan kematian itu berakibat besar pada pemerintahan Demak kemudian. Bahkan menjadi awal dari keruntuhan dan kehancurannya.

Namun mungkin bukan keberhasilan yang harus dikenang, tapi usaha yang mestinya diberi penghargaan. Sebab meski gagal mengusir penjajah Portugis, Demak telah berusaha mempertahankan nusantara dari penjajahan yang beringas dan kebiadaban.

Seperti juga penulisan novel ku ini, mungkin juga tidak akan berhasil sempurna mengingatkan pembaca, bahwa pernah ada kekhalifahan Islam di Jawa. Kesultanan Demak Bintoro yang memerintah berlandaskan nilai-nilai agama yang penuh kedamaian. Namun paling tidak, aku sudah berusaha untuk mengenangnya, sebagai pembelajaran bersama.

oleh Nassirun Purwokartun pada 26 Juli 2011 pukul 9:39

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s