Buka Buku 23: FATAHILLAH, FATHAN MUBINA!

Standar

 

BANTEN, SEJARAH DAN PERADABAN ABAD X – XVII

Setelah Maluku jatuh dalam cengkeraman Portugis, maka pala dan cengkih pun menjadi monopoli mereka.  Menjadi barang dagangan yang sangat menguntukan pundi-pundi kekayaan Portugis Raya.

Namun seolah belum puas, mereka melirik rempah lainnya, yakni buah lada. Maka dicarilah pulau-pulau penghasil lada hitam di seantero nusantara. Akhirnya, mereka pun menemukannya di sepanjang pulau Sumatra dan barat pulau Jawa.

Adalah Banten dan Sunda Kelapa, dua pelabuhan besar Pajajaran yang terkenal dengan penghasil lada hitam yang tinggi kualitasnya. Portugis pun mencoba menjejakkan kakinya. Dan keinginan itu bertemu dengan ketakutan Pajajaran, sebagai kerajaan kecil yang tak mau tunduk pada Demak.

Kesultanan Demak yang ingin mempersatukan kekuatan di Jawa, telah menguasai hampir seluruh pesisir utara. Setelah keruntuhan Majapahit, maka Demak lah yang menjadi kekuatan utama di Jawa. Meski kekuasannya tak sebesar Majapahit yang hingga ke seberang lautan. Namun dengan Islam yang menjadi  landasan pemerintahannya, membuat Pajajaran tak mau tunduk. Dan menyadari kekuatannya yang tak mampu melawan, maka mereka pun mencoba menjalin kerjasama denan Portugis.

Keinginan yang bersambut dengan kebutuhan Portugis akan lada dan daerah jajahan, menjadikan mereka membuat kesepakatan.  Pada tahun 1522, Henrique Leme menghadap raja Pajajaran untuk urusan perjanjian dagang, yang dibalas dengan perjanjian keamanan. Bahwa Portugis akan membantu Pajajaran membangun sebuah benteng pertahanan. Dan mereka pun dijamin untuk mendapatkan lada sejumlah yang mereka kehendaki.  Selain itu, Pajajaran juga berjanji akan memberikan 1.000 karung lada pada Portugis, sejak dibangunnya benteng tersebut.

Maka perjanjian pun dibuat dan disepakati. Daerah yang akan dibangun benteng adalah pada kawasan pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan utama Pajajaran. Portugis pun membuat batu peringatan tanda perjanjian, padrao, yang didirikan di tepian kanan muara Ciliwung. Batu panjang menyerupai tugu peringatan yang sekarang bisa kita lihat di Museum Nasional Jakarta.

Namun sebelum benteng itu sempat didirikan, dan kerjasama Pajajaran dengan Portugis terlaksana, Demak sudah menciumnya. Demak yang telah berkali-kali mencoba menyerang Portugis dari Malaka dan Maluku, tak ingin pulau Jawa menjadi jajahannya juga. Maka permusuhan dengan Portugis pun menjadi alasan untuk menganggap Pajajaran sebagai ancaman.

Sebelum Portugis datang, Demak lebih dulu merebut Banten dari Pajajaran. Dan kerajaan Sunda yang kekuatannya tak seimbang dengan Demak itu pun tak kuasa mempertahankan Banten. Fadhillah Khan, sang panglima Demak telah berhasil gilang gemilang meraih kemenangan. Pada akhir 1526, Demak berhasil menguasai Banten dan merebutnya dari Pajajaran. Dan Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati diangkat sebagai adipati di Banten.

Setelah berhasil menguasai Banten, tentara Demak mencoba merebut Sunda Kelapa, yang menurut rencana hendak dijadikan benteng Portugis. Maka kembali keberhasilan strategi Fadhillah Khan menuai kemenangan atas Sunda Kelapa. Maka Pajajaran, kerajaan yang berada di pedalaman semakin terisolir dari luar, dengan telah direbutnya dua pelabuhan utamanya oleh Demak, yakni Banten dan Sunda Kelapa.

Dan selang enam bulan kemudian, pada Juni 1527, utusan Portugis datang kembali, untuk melanjutkan perjanjian dengan Pajajaran pada lima tahun silam. Mereka datang untuk memulai pembangunan benteng seperti yang direncanakan. Fransisco de Sa datang langsung dari Malaka ke Sunda Kelapa, dengan mimpi berkarung-karung lada akan menjadi milik mereka dengan murahnya.

Namun tanpa mereka ketahui, bahwa Sunda Kelapa sudah bukan milik Pajajaran lagi. Maka ketika kapal-kapal Portugis merapat di pelabuhan, prajurit Demak dan Banten telah bersiaga. Dan terjadilah pertempuran hebat di Sunda Kelapa yang dipimpin kembali oleh Fadhillah Khan. Dan keberhasilan tengah berpihak pada Demak. Hingga Portugis melarikan diri dari pelabuhan.

Kemenangan yang kemudian dicatat oleh sejarah, sebab Fadhillah Khan menganggapnya sebagai kemenangan yang nyata, atau “fathan mubina”. Kemenangan yang berasal dari kekuatan Allah ta’ala, yang tak rela keberingasan mengalahkan kedamaian. Sebagai tanda kebahagiaan, Fadhillah Khan pun mengganti namanya menjadi Fatahillah. Dan Sunda Kelapa pun diganti namanya menjadi Jayakarta.

Begitulah yang sempat kubaca dari buku “Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII” karya Claude Guillot. Buku yang seolah melengkapi karya Hoesein Djajadiningrat yang selama ini menjadi rujukan utama tentang sejarah Banten, yakni “Tinjauan Kritis Sejarah Banten.”

Maka ketika aku menulis novel Penangsang, kuselipkan kisah kemenangan Demak itu. Kemenangan Fatahillah yang kemudian dikenang dalam sejarah. Sebab beratus tahun kemudian, peristiwa pengusiran Portugis pada tanggal 22 Juni 1527 dianggap sebagai hari kelahiran Jakarta.

oleh Nassirun Purwokartun pada 26 Juli 2011 pukul 11:21

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s