Buka Buku 24: Ketika Umara Dan Ulama Tak Lagi Bisa Bersama, Akhirnya ….

Standar

 

KEPULAUAN REMPAH-REMPAH

Penyebaran agama Islam di Maluku konon berkat jasa ulama Jawa bernama Datu Maula Hussein.

Ia tiba di Ternate pada tahun 1465. Hussein adalah seorang ulama besar pada masanya. Ia memiliki pengetahuan agama Islam yang luas dan dalam. Serta pakar tilawah dan kaligrafi Qur’an.

Pada waktu senggang, terutama malam hari, ia membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu, serta membuat kaligrafi di atas kayu dengan sangat indah. Kegiatan ini membuat banyak penduduk Ternate kagum. Hingga tiap ia mendendangkan lantunan ayat suci, banyak orang berdatangan untuk mendengarkan kemerduan suaranya yang menyentuh kalbu.

Bermula dari kegemaran mendengarkan lantunan Qur’an, beberapa rakyat ada yang meminta diajari membaca. Hussein menjelaskan, bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci ummat Islam yang berisi kalam Illahi. Kitab yang hanya boleh diajarkan kepada mereka yang telah menjadi muslim. Mendengar penjelasan itu orang-orang Ternate tidak keberatan dengan syarat Hussein, untuk mengucapkan syahadat. Berbondong-bondong rakyat Ternate masuk Islam.

Dengan makin banyaknya rakyat yang masuk Islam, Hussein kemudian membuka sebuah tempat pembelajaran, semacam pesantren kecil. Kegiatan ini ternyata diketahui pihak kerajaan. Hingga Raja memanggilnya, untuk diminta melagukan ayat-ayat suci. Dari hasil tilawah yang penuh perasaan itu, keluarga Raja Ternate kemudian memeluk Islam juga.

Bahkan Hussein kemudian diangkat menjadi guru agama bagi putra mahkota Ternate, Zainal Abidin. Sejak masa kanak-kanaknya hingga dinobatkan menjadi Raja Ternate, selalu dalam bimbingan Hussein. Hingga tak heran, ketika Zainal Abidin menjadi Raja pada tahun 1486, Islam mendapatkan kekuatan politik di Ternate. Dan Zainal Abidin adalah raja pertama Ternate yang memakai gelar Sultan.

Pada tahun 1494, Zainal Abidin melakukan perjalanan ke Giri, Jawa Timur, untuk belajar lebih dalam tentang Islam pada Sunan Giri. Hussein turut menyertainya, untuk kembali seterusnya di kampung halamannya, setelah berdakwah selama hampir 30 tahun di Ternate.

Setelah tiga bulan belajar di pesantren Giri, Zainal Abidin kembali ke Ternate. Dengan membawa serta beberapa ulama pesantren Giri untuk menggantikan Hussein, mengajarkan Islam di Ternate. Beberapa kemudian diangkat menjadi Imam, sebagai penasehat Kesultanan. Seperti juga Dewan Walisongo yang saat itu menjadi penasehat Kesultanan Demak.

Salah satu upaya Zainal Abidin yang terpenting untuk mengembangkan Islam, selain mendirikan sejumlah pesantren dengan guru dari Giri, adalah membentuk lembaga Jolebe, sebagai salah satu perangkat agama di Kesultanan. Dengan demikian, ia telah meletakan dasar menjadikan Ternate sebagai kekhalifahan Islam di Maluku, seperti Demak di pulau Jawa.

Pengganti Zainal Abidin, yakni Sultan Bayanullah melanjutkan penyebaran Islam hingga ke pedalaman Maluku. Dan ada dua jasa Bayanullah dalam penyebaran Islam dengan kekuasaannya yang kemudian dicatat sejarah.

Satu, Kesultanan Ternate menyatakan berlakunya hukum pernikahan Islam bagi seluruh rakyat Ternate yang beragama Islam. Dan Sultan Bayanullah juga melarang praktek pergundikan yang sebelumnya marak di masyarakat, terutama kalangan bangsawan dan hartawan.

Dua, semua rakyat Ternate, tanpa pandang bulu, muslim atau pun bukan, diwajibkan berpakaian menutup anggota badan. Sultan Bayanullah melarang laki-laki hanya memakai “cikado” (cawat) saja. Dan perempuan harus memakai pakaian yang menutup auratnya.

Begitulah sedikit yang sempat teringat tentang kedatangan Islam di Maluku, hingga kemudian mewarnai kekuasaan menjadi Kesultanan Islam Ternate. Seperti yang kubaca dari buku “Kepulauan Rempah-Rempah” karya M. Adnan Amal. Sebuah buku yang mengupas tentang perjalanan sejarah Maluku Utara sejak tahun 1290 hingga 1950.

Buku yang kemudian kujadikan bahan bacaan, untuk menghubungkan kisah Sunan Giri, yang konon telah melebarkan sayap dakwahnya hingga ke luar Jawa. Ketika di Jawa sendiri, Demak telah kokoh sebagai kekhalifahan Islam, yang antara umara sebagai pemimpin ummat, dan para ulama sebagai penasehat bisa seiring jalan dalam mengemban amanat.

Sebuah pembelajaran yang kemudian kudapatkan dari keruntuhan Demak. Yakni karena umara dan ulamanya tak lagi bisa berjalan bersama. Ketika umara merasa lebih berkuasa, hingga mengabaikan nasehat para ulama. Dan hasilnya, adalah kehancuran yang kemudian dialaminya.

oleh Nassirun Purwokartun pada 26 Juli 2011 pukul 22:48

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s