Buka Buku 25: Fatahillah Si Fadillah Khan

Standar

 

CERBON

Banyak orang yang mengira, Sunan Gunung Jati dan Fatahillah adalah orang yang sama.

Anggapan yang ditimbulkan karena adanya salah interpretasi dari sumber-sumber tertulis, cerita, dan dongeng. Tapi untuk orang Cirebon sendiri, ternyata tak pernah ada keraguan, bahwa kedua tokoh itu adalah sosok yang berbeda.

Ini dibuktikan adanya dua makam di astana sultan-sultan Cirebon di Gunung Sembung, yang satu makam Sunan Gunung Jati dan satu lagi makam Fatahillah. Juga kemudian diketahui, Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568, sedangkan Fatahillah meninggal di tahun 1570.

Bukti lainnya adalah kedua tokoh sejarah itu juga selalu disebut terpisah dalam babad-babad, semacam dalam “Purwaka Caruban Nagari” dan dalam “Babad Cerbon”. Juga pada cerita-cerita setempat dan dalam tradisi Cerbon, serta Priangan Timur dan dalam doa-doa keagamaan para penjaga makam-makam mereka berdua.

Dan kalau kita telusuri dalam sejarah, memang secara silsilah dua tokoh itupun berbeda. Sunan Gunung Jati, bernama asli Syarif Hidayatullah. Anak dari Syarif Abdullah dengan ibu Rara Santang yang lahir di Mesir pada tahun 1448. Sedangkan Fatahillah, bernama asli Fadhillah Khan. Anak dari Maulana Makhdar Ibrahim, yang lahir di Pasai pada tahun 1470.

Ketika Portugis yang telah menjajah Malaka menggempur Pasai pada tahun 1521, Fadhillah Khan yang putra pembesar Pasai menyelamatkan diri ke Makkah. Selama 3 tahun ia kemudian belajar agama dan ilmu peperangan di sana. Waktu hendak kembali ke Pasai, ternyata Portugis telah benar-benar menjajah Pasai. Maka ia memilih tak kembali ke tanah kelahirannya, namun meneruskan perjalanannya ke Jawa, dan mendarat di Jepara. Sebuah pelabuhan utama dari Kesultanan Demak, yang memang tengah ditujunya.

Fadhillah Khan kemudian datang menemui Sultan Demak, Sultan Trenggono. Dan menceritakan tentang keadaan Pasai setelah dihancurkan Portugis. Yang cerita itu bersambut baik dengan kebencian Demak pada Portugis, hingga telah 2 kali mengadakan penyerangan ke Malaka, pada masa pemerintahan Sultan sebelumnya, Pati Unus.

Melihat kecakapan Fadhillah Khan dalam ilmu keprajuritan dan peperangan, Sultan Demak mengangkatnya menjadi panglima. Bahkan kemudian menjadikannya saudara, dengan menikahkannya dengan saudara perempuan Sultan Trenggono yang bernama Ratu Pembayun. Setelah itu, ia juga dinikahkan dengan janda Sultan Demak sebelumnya, yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Yakni janda Pati Unus yang bernama Ratu Ayu, yang tak lain adalah putri dari Sunan Gunung Jati.

Pada tahun 1525, Sultan Trenggono mengirimnya ke Banten, untuk menjadikannya pelabuhan Islam. Dengan bantuan prajurit santri Cirebon yang dipimpin Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, Fadhillah Khan dan prajurit Demak berhasil menduduki Banten. Dengan ditaklukkannya Banten dari Pajajaran, Sunan Gunung Jati lalu mengangkat Hasanuddin sebagai adipati Banten.

Kemudian pada tahun 1527, prajurit dari Banten melakukan penyerangan terhadap Sunda Kelapa. Sebab Fadhillah Khan telah mendengar adanya perjanjian Portugis dan Pajajaran akan mendirikan benteng pertahanan di pelabuhan Sunda Kelapa. Bertepatan dengan kedatangan armada Portugis, Fadhillah Khan berhasil mengusirnya dengan gemilang.

Dengan jatuhnya Sunda Kelapa yang kemudian diganti nama menjadi Jayakarta, Fadhillah Khan mengganti namanya menjadi Fatahillah, yang berarti kemenangan yang berasal dari kekuatan Allah ta’ala. Sejak itu ia menjadi adipati Jayakarta, yang kedudukannya sama dengan Banten di bawah pemerintahan Cirebon, yang menginduk pada Kesultanan Demak.

Tiga tahun kemudian, pada tahun 1530, Fatahillah meninggalkan Jayakarta, karena dipercaya oleh Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin di Cirebon. Menggantikan Pangeran Pasarean, yang telah turun takhta untuk mengajarkan Islam di pedalaman Sunda. Sementara untuk menggantikan kedudukannya sebagai  adipati Jayakarta, dipercayakan pada Ratu Bagus Angke, menantu dari adipati Banten Hasanuddin, yang tak lain adalah cucu menantu dari Sunan Gunung Jati juga.

Pada tahun 1546, Fatahillah yang telah memimpin Cirebon dipanggil Demak untuk membantu Sultan Trenggono dalam peperangan menaklukkan Blambangan. Dan dalam pertempuran itu, Sultan Demak wafat di depan benteng Panarukan. Kematian yang kemudian menggoncang kekuatan Demak, bahkan memunculkan perpecahan pada saat pergantian kepemimpinan.

Itulah yang kubaca dari buku lama berjudul “Cerbon”. Buku terbitan tahun 1982 yang terbit dalam edisi Inggris dan Indonesia, dan mengulas lengkap tentang sejarah dan budaya Cirebon. Buku yang menguatkan keyakinanku, bahwa Sunan Gunung Jati dan Fatahillah memang orang yang berbeda.

oleh Nassirun Purwokartun pada 27 Juli 2011 pukul 8:27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s