Buka Buku 26: FEITORIA, FORTALIZA, IGREJA

Standar

 

SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA

“Feitoria, Fortaleza, Igreja.”

Begitulah semboyan Portugis dan Spanyol dalam ekspansi politiknya pada abad XVI. Sebuah semboyan yang kemudian kita kenal dengan tujuan politik “Gold, Glory, Gospel.” Yakni jalan penguasaan yang dilakukan dengan jalan “perdagangan”, untuk kemudian melakukan “penjajahan”, yang selanjutnya menjadi lahan “penginjilan.”

Maka dengan dijajahnya Malaka oleh Portugis sejak tahun 1511, ditanamkanlah benih-benih Katolik pertama di Nusantara. Kemudian menjadikannya Malaka sebagai pangkalan dagang dan pertahanan utama kekuasaan mereka. Untuk kemudian menyerbu ke Maluku, dan menjarah rempah-rempahnya.

Di Maluku, mereka berhasil menyerbu Ternate. Dan pada tahun 1522 berhasil membangun pangkalan di sana. Sementara Spanyol juga muncul di Maluku, dan mendapatkan tanah jajahan di Tidore. Dengan munculnya dua kekuatan yang juga berseteru, makin membuat permusuhan antara Ternate dan Tidore makin tajam.

Padahal dalam anjuran Paus di Roma, kedua bangsa itu telah bersepakat dalam warkat Bull Intercaetera, untuk menaklukkan Negara-negara Islam di benua Timur. Sebab menurut Paus, masa Perang Salib telah lampau, dan sudah tiba saatnya untuk memperluas wilayah Katolik.

Maka  diberikan oleh Paus, hak kepada Spanyol untuk menaklukkan tanah-tanah (pulau dan rakyatnya) yang ditemuinya dalam pelayarannya di sebelah timur garis batas menurut meridian di sebelah barat pulau Verde.  Sementara hak untuk Portugis adalah menaklukkan daerah yang berada di sebelah barat garis batas tersebut.

Namun dalam perkara penjajahan atas Maluku, Portugis dan Spanyol saling berebut kekuasaan. Karena di Maluku lah penghasil rempah-rempah utama yang selama ini menjadi barang dagangan yang sangat menguntungkan. Rempah-rempah, membuat kedua bangsa penjajah pun saling bermusuhan.

Dengan adanya Portugis di Maluku, maka berkembang pula Katolik di jazirah Kesultanan Islam. Sebab setelah Ternate, Portugis kemudian mendapatkan jajahan di sepanjang Halmahera dan Ambon. Dan berkat kegiatan Francisscus Xaverius, makin memperluas wilayah penyebaran Katolik di Maluku. Bahkan sampai di bagian timur Nusa Tenggara dan Sulawesi Utara.

Karena penjajahan yang makin meluas, dan penyebaran Katolik di wilayah Maluku yang sudah masuk Islam, maka terjadilah berkali-kali pertempuran dengan kekuasaan Ternate. Lebih-lebih lagi karena sepak terjang Portugis yang makin beringas dan biadab dalam tindakannya.

Permusuhan makin menjadi, karena pertentangan agama ini makin menghebat lagi, dengan ikut campurnya Portugis dalam hal pemerintahan atas Kesultanan Ternate. Seolah-olah merekalah yang berkuasa. Hingga atas tuduhan palsu, mereka mengangkut Sultan Ternate, Tabarij, ke Goa untuk diadili.

Setelah 10 tahun kemudian, ternyata Sultan Tabarij terbukti tidak bersalah. Mereka hendak mengembalikannya ke Ternate. Padahal takhta Kesultanan sudah diduduki oleh penggantinya, Sultan Hairun.

Terjadilah pertentangan lanjutan, karena rakyat Ternate menolak kembalinya Tabarij, yang telah menjadi pemeluk Katolik dengan nama Manuel. Maka untuk melancarkan penjajahannya, Portugis malakukan tipu muslihat. Yakni menjebak Sultan Hairun untuk datang dalam perayaan, dan kemudian membunuhnya dengan sangat kejam.

Itulah sekelumit cerita yang kudapatkan dari buku “Sejarah Kebudayaan Indonesia” karya Drs. R Soekmono. Buku tiga jilid susunan pakar sejarah Indonesia, yang makin melengkapi wawasanku tentang penjajahan Portugis di nusantara.

Kisah-kisah yang membuatku memahami kenapa Demak begitu gencar melakukan penyerbuan terhadap Portugis di mana pun berada. Tidak hanya di Malaka, Maluki, Sunda Kelapa, bahkan juga Blambangan.

Sebuah usaha yang layak dapat kita kenang, tentang keberadaan Kekhalifahan Islam di Jawa. Meskipun memang Demak tak berhasil menghadang masuknya penjajahan atas nusantara. Hingga setelah Demak hancur, penjajahan Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol pun digantikan  oleh Kerajaan Protestan Inggris dan Belanda.

Tapi tujuan dan semangatnya tetap sama. “Feitoria, Fortaleza, Igreja”.

oleh Nassirun Purwokartun pada 28 Juli 2011 pukul 9:57

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s