Buka Buku 27: Celaka Emporium Malaka

Standar

 

PENGANTAR SEJARAH INDONESIA BARU

Perdagangan dari kawasan Nusantara ke Malaka sejak abad XII sangat tergantung pada sistem angin yang berlaku di Asia Selatan, Tenggara, dan Timur. Begitu pun perdangan dari Malaka ke Nusantara.

Arah angin yang sangat menentukan jalur navigasi yang ditempuh Asia, khususnya bagi nusantara pada siklus di Australia. Siklus yang pertama menimbulkan angin barat daya yang menjadi musim pelayaran baik dari Asia Selatan ke Malaka, yakni dari Januari sampai Maret.

Dalam musim panas di barat daya sehingga sulit berlayar dari Malaka ke pantai Malabar dan Gujarat. Menjelang musim panas kapal-kapal sudah kembali dari Malaka, maka perdagangan dilakukan dalam waktu pendek, dari Maret sampai akhir Mei.

Pelayaran yang menggunakan angin timur laut pada musim dingin di daratan Asia, yakni bulan-bulan terakhir tahun lama dan bulan-bulan pertama tahun baru berikutnya dilakukan oleh bangsa Cina untuk mengunjungi Malaka. Waktu cukup leluasa, yaitu kurang lebih setengah tahun.

Dalam periode yang sama, di lingkungan kepulauan nusantara berlaku musim hujan dan musim barat sehingga tidak banyak pedagang nusantara yang datang. Pelayaran dari Maluku dan Jawa ke Malaka memakai musim timur atau musim kemarau, yakni dari Mei sampai September. Pedagang itu terpaksa menunggu musim barat, ini berarti baru dalam bulan Januari dapat kembali.

Ketergantungan pada system angin ini membuat waktu berlayar dan berlabuh di Malaka berbeda-beda. Oleh karena itulah timbul kebutuhan untuk menyimpan barang dagangan selama periode antara kedatangan penjual dan pembeli.

Dalam hal ini, Malaka dapat menjalankan fungsinya sebagai emporium, yaitu sebuah kawasan perdagangan yang sangat menentukan. Di situ bertemu jalur perdagangan dari Barat, Utara, dan Timur baik perdagangan mancanegara maupan nusantara.

Sebagai tempat pertemuan pedagang dari pelbagai penjuru, Malaka berkembang sebagai pasar tidak hanya rempah-rempah, tetapi juga hasil kerajinan dari berbagai bangsa. Berkembangnya jenis perdagangan yang kedua sangat mempengaruhi kemajuan Malaka.

Malaka menjadi tempat strategis untuk pertemuan berbagai pedagang berikut barang dagangannya, termasuk juga ilmu dan pemahaman. Jaringan itu sangat penting bagi perkembangan sejarah nusantara, karena jalur-jalur dari dan ke Malaka, membuka jalan masuknya aliran-aliran peradaban dan agama ke nusantara. Hubungan perdagangan itulah yang menciptakan kecenderungan struktural ke arah proses islamisasi di nusantara pula.

Begitulah yang kudapatkan dari buku “Pengantar Sejarah Indonesia Baru jilid 1” karya sejarawan Indonesia terkemuka, Sartono Kartodirjo. Buku yang mengulas tentang rentang waktu sejarah dari tahun 1500 hingga 1900. Suatu bahasan yang mengisahkan perjalanan sejarah “Dari Emporium sampai Imperium.”

Dalam buku itu diceritakan detal, bahwa Malaka memang merupakan kawasan dagang terpenting dan terbesar saat itu, yang berada tepat di pintu gerbang nusantara. Volume perdagangan setiap tahun yang dilakukan di Malaka, tercermin pada banyaknya kapal yang bersandar di pelabuhan. Terdapat setiap tahunnya, ada empat kapal dari Gujarat, enam kapal dari Koromandel, serta lima kapal dari Bengala. Juga dari Pegu datang enam belas jung dan tiga puluh kapal muatan. Serta dari Siam berlabuh tiga puluh jung, dari Cina sepuluh jung, dan dari Jepang tiga kapal, serta dari Filipina ada tiga kapal juga. Selanjutnya datanglah dua belas jung dari Palembang, sepuluh kapal dari Jawa, dan tiga jung dari Sunda. Jadi dalam setahun berlabuhlah di Malaka sekitar seratus kapal besar, empat puluh kapal sedang, dan perahu serta jung yang tak terhitung jumlahnya.

Maka dengan dijajahnya Malaka oleh Portugis, kawasan itu pun menjadi kekuasaan mereka. Kesultanan Malaka yang sebelumnya pemilik Bandar Malaka terusir sampai ke Johor. Hingga minta bantuan pada Aceh dan Demak untuk mengusir Portugis yang telah mengangkangi emporium Malaka tersebut.

Usaha yang kemudian berulangkali dicoba, namun gagal, karena lemahnya persenjataan dan persatuan.

oleh Nassirun Purwokartun pada 29 Juli 2011 pukul 19:47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s