Buka Buku 29: Sebelum Portugis Datang Ke Nusantara

Standar

 

ARKEOLOGI ISLAM NUSANTARA

Sebelum kedatangan Portugis ke Nusantara, ada beberapa kota pelabuhan yang masih berada di bawah kekuasaan Hindu-Buddha dan Islam.

Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha tersebut, antara lain Majapahit di Jawa Timur dan Pajajaran di Jawa Barat. Kota-kota pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Islam antara lain Samudera Pasai di Sumatera, Demak di Jawa Tengah, Cirebon dan Banten di Jawa Barat, Ternate dan Tidore di Maluku, Gowa Tallo di Sulawesi, dan Banjar di Kalimantan.

Sebelum kedatangan Portugis, terdapat kota-kota pelabuhan kerajaan, besar dan kecil, di seantero Nusantara. Kerajaan-kerajaan tersebut membangun perdagangan regional dan internasional serta pelabuhan dari Negara-kota, karena fungsinya dalam menghasilkan pendapatan kerajaan.

Aktivitas perdagangan internasional kerajaan Hindu-Budha maupun kerajaan Islam melalui benua India dilakukan dengan lancar, aman, dan damai. Pada kota-kota pelabuhan di mana pedagang asing datang, terdapat kelompok-kelompok berdasarkan etnis mereka. Seperti Pecinan, Pakojan, dan sebagainya, sesuai kebangsaan para pedagang tersebut. Dan mereka berdagang dengan damai.

Kedatangan Portugis dengan kebijakannya yang dimuati oleh tiga faktor: gold, glory, gospel, atau perdagangan, dominasi militer, dan agama, membawa implikasi politik, konflik, bahkan perang, antara kerajaan-kerajaan Nusantara melawan Portugis. Perang terjadi ketika Portugis mulai mencampuri kebijakan kerajaan dan memaksakan monopoli dagang dan agama mereka.

Ketika Portugis berhasil menguasai Malaka sebagai pangkalan militer dan pusat dagang mereka, Portugis selalu berhubungan dengan kerajaan Hindu-Budha untuk negosiasi politik dan perdagangan. Namun sekaligus dengan memusuhi kerajaan-kerajaan Islam, bahkan menyerbu dan menghancurkannya, seperti terhadap Johor dan Aceh. Juga kemudian dengan menjajahnya, seperti yang terjadi di Maluku.

Dominasi terhadap jalur perdagangan di Nusantara dengan menguasai perdagangan rempah, dilakukan oleh Portugis sejak dari Afrika Selatan hingga Kalikut dan Malaka. Untuk menguasai jalur dan aktivitas perdagangan internasional, yang dilakukan dengan memerangi pedagang Islam yang ditemuinya dalam sepanjang pelayaran.

Itulah yang makin memperkaya pengetahuanku tentang kedatangan Portugis di Nusantara. Seperti yang kudapatkan dalam buku “Arkeologi Islam Nusantara.” Buku karya Uka Tjandrasasmita, yang selama ini kita kenal sebagai sejarawan yang konsen terhadap sejarah Islam di Indonesia.

Bahwa ternyata, sebelum kedatangan Portugis, pelabuhan-pelabuhan di kerajaan-kerajaan Nusantara telah diakui sebagai pelabuhan internasional. Yang di tiap pelabuhan, berbagai pedangan dari bermacam bangsa berjualan dengan lancar, aman, dan damai.

oleh Nassirun Purwokartun pada 31 Juli 2011 pukul 23:44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s