Buka Buku 31: Dari Masjid Menjadi Klenteng

Standar

 

MUSLIM TIONGHOA CHENG HO

Selain pertimbangan lain, konon, Kesultanan Demak didirikan juga karena Raden Patah terharu hatinya, prihatin dan trenyuh jiwanya melihat masjid yang berubah menjadi klenteng.

Pada saat Raden Patah datang dari Palembang  ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu di Pesantren Sunan Ampel, ia tidak mendarat di Gresik atau Surabaya yang jaraknya lebih dekat. Melainkan turun di Semarang, yang justru sangat jauh di barat tempat yang ditujunya. Dan rencana turun di Semarang bukan tanpa tujuan, sebab ternyata ia hendak melihat masjid peninggalan laksamana Cheng Ho, yang ada di daerah Simongan.

Yang setelah ia melihat keadaan masjid yang telah berusia ratusan tahun itu, Raden Patah sangat trenyuh. Terharu melihat masjid yang tersisa tak lagi berfungsi sebagai masjid, melainkan menjadi klenteng bernama Sam Po Kong. Dan lebih prihatin lagi, karena di dalam bekas masjid itu, terdapat patung besar sang laksamana yang telah dijadikan sesembahan.

Keprihatinan tentang masjid laksamana Cheng Ho itulah yang kemudian membuat Raden Patah membangun kerajaannya tak jauh dari Semarang. Dan membangun masjid di Demak sebagai pusat penyebaran dakwah Islam dengan jalan pemerintahan, Kesultanan Demak sebagai penggeraknya.

Namun meskipun Kesultanan Demak tegak berdiri, dan Semarang menjadi bawahan Demak, kelenteng Sam Po Kong tidak diruntuhkan. Karena semangat Demak adalah perdamaian dan kedamaian. Demi menghargai jasa Cheng Ho yang telah turut menyebarkan Islam dalam sepanjang pelayaran kunjungan muhibahnya yang juga menyebarkan perdamaian.

Pada pertengahan pertama abad XV, Kaisar Zhu Di Dinasti Ming Tiongkok mengutus suatu armada raksasa untuk mengadakan kunjungan perdamaian ke Laut Selatan. Armada itu dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho dengan Wang Jing Hong sebagai orang kedua.

Ketika armada berlayar di muka pantai utara Jawa, Wang Jing Hong mendadak sakit keras. Menurut perintah Cheng Ho, armada itu singgah di pelabuhan Simongan, yang kemudian bernama Mangkang, Semarang. Setelah mendarat, Cheng Ho dan awak kapalnya menemukan sebuah goa. Goa itulah yang kemudian dijadikan suatu tangsi untuk sementara. Dan dibuatlah sebuah pondok kecil di luar gua sebagai tempat peristirahatan dan pengobatan bagi Wang. Cheng  Ho sendiri yang merebus obat tradisional untuk Wang. Hingga Wang mulai membaik sakitnya.

Sepuluh hari kemudian, Cheng Ho melanjutkan pelayarannya ke barat, dan ditinggalkan 10 awak kapal untuk menjaga kesehatan Wang, disamping sebuah kapal dan bermacam perbekalan. Namun setelah Wang sembuh, ia menjadi betah di Semarang. Hingga dipimpinnya 10 awak kapal itu untuk membangun sebuah pemukiman. Dan kapal peninggalan Cheng Ho dimanfaatnya untuk perdagangan sepanjang pesisir pantai utara.

Seperti juga Cheng Ho, Wang pun seorang muslim yang shaleh. Dia giat menyebarkan agama islam di kalangan penduduk yang turut mendiami lahan di sekitar Simongan, sampai dengan meninggalnya pada usia 87 tahun. Jenazahnya dikebumikan tak jauh dari goa, yang dulunya menjadi tempat peristirahatan sementara. Orang-orang Jawa kemudian mengenalnya sebagai Ki Juru Mudi Dampo Awang. Yang sekarang makamnya masih ditemukan di kompleks Kelenteng Sam Po Kong, Semarang.

Lambat laun, semakin banyaknya orang-orang Tionghoa yang bermukim ke Simongan.Demi menghormati jasa dan kebesaran laksamana Cheng Ho, mereka mendirikan patung sang laksamana, yang mereka kenang sebagai Sam Po Kong. Sejak saat itu, pada tanggal 1 dan 15 tiap bulan Imlek, orang-orang berbondong-bondong datang untuk menyembah patung Sam Po Kong, sekaligus berziarah ke makam Wang Jing Hong atau Ki Juru Mudi Dampo Awang.

Begitulah yang kudapatkan dari buku “Muslim Tionghoa Cheng Ho” karya Prof. Kong Yuanzhi. Sebuah buku yang menuturkan dengan rinci tentang misi perjalanan perdamaian Cheng Ho di nusantara.

Bahwa ternyata, kelenteng Sam Po Kong yang sekarang masih berdiri megah di Simongan, dulunya adalah sebuah masjid. Sebuah tempat yang juga menjadi penyebaran Islam oleh Dampo Awang. Sebuah tempat yang telah membuat hati Raden Patah terharu. Tersentuh, prihatin dan trenyuh.

oleh Nassirun Purwokartun pada 3 Agustus 2011 pukul 7:34

One response »

  1. Nggak ada tulisan2 lain mas.?
    Sekedar tambahan referensi tentang Demak,tepatnya di desa Prawoto,kec Sukolilo,kab.Pati,terdapat beberapa artefak Kerajaan Demak,diantaranya berupa bekas alun2,dan candi bentar (dlm istilah Mataram disebut gapura supit urang). Letak gapura tsb berada pada garis lurus antara bekas alun2 dan masjid kecil yg sekarang berada di tengah sawah. Menurut kesaksian banyak orang,masjid tsb dulunya tidak bisa tenggelam oleh banjir lantaran bisa mengapung (sbg bukti keahlian maritim nenek moyang),namun stlh dipugar msjd tsb sudh tdk bisa mengapung lagi. Di Prawoto dulu juga trdapat meriam,namun sekarang meriam tsb telah lenyap (ingat,disamping kuat dlm kelautan,Demak juga punya insinyur2 ahli di bidang senjata api). Gapura/candi bentar yg menghubungkan antara masjid yg sekarang berada d tengah sawah juga telah hancur,akibat terkena alat berat dlm pembangunan kanal irigasi proyek Jratunseluna pada masa Orde Baru. Hilangnya meriam,runtuhnya candi bentar,dan pemugaran masjid kecil yg sekarang berada di tengah sawah,terjadi pada masa Orde Baru. Para saksi hidup masih ada,bukan hanya orang2 desa Prawoto,tp juga dari kesaksian orang di daerah Pati,dan Kudus,karena letak desa tsb berada di perbatasan Pati dgn Kudus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s