Buka Buku 34: Dari Jin Bun Hingga Tung Ka Lo

Standar

 

CINA MUSLIM

“Buku ini merupakan karya agung dua ilmuwan terbesar dalam bidang sejarah, bahasa, dan sastra Jawa.”

Begitu M.C. Ricklefs memberikan pengantar editornya pada buku “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos.” Buku karya HJ De Graaf dan Pigeaud yang pertama kali diterbitkan oleh Monash Asia Institut pada tahun 1994.  Karya yang merupakan hasil pembahasan kritis dari lampiran pada buku “Tuanku Rao” yang menjadi bahan perdebatan.

Karya ini menjadi menarik karena kedua pakar tersebut melakukan analitis perbandingan dengan tiga sumber utama sejarah Jawa. Yakni Catatan Perjalanan Pengembara Portugis, Tome Pires; catatan-catatan documenter Cina Daratan; dan Babad Tanah Jawa.

Lewat studi perbandingan silang ini, kedua pakar tersebut bisa menunjukkan kepada pembaca, posisi sesungguhnya teks tersebut. Dengan demikian, juga telihat bagaimana hubungan Cina dengan pribumi Jawa pada saat itu. Selain tentang keraguan pada naskah asli dari Kronik Tionghoa yang konon ditemuakn Poortman di Klenteng Sam Po Kong. Naskah yang dalam buku ini disebut dengan “Catatan Tahunan Melayu.”

Sebab sulit dipercaya, kalau kertas-kertas yang merupakan catatan asli itu berada di kota Semarang selama 400an tahun. Iklim tropik yang basah, api, dan kekacauan politik dalam negeri paling tidak sudah merusak arsip-arsip lama yang berasal dari abad 16.

Namun dari beberapa perbandingan antar naskah yang dipaparkan, aku mendapat banyak informasi tentang keberadaan Demak. Salah satunya adalah tentang sosok Raden Patah, yang dalam naskah tersebut dikenal denan nama Jin Bun. Sebuah nama Cina yang konon berarti “Satria Perkasa.”  Juga dengan kedua raja berikutnya, yakni Pati Unus dan Trenggono, yang dalam naskah disebut sebagai Yat Sun dan Tung Ka Lo.

Menurut “Catatan Tahunan Melayu”, Jin Bun hidup dari tahun 1455 sampai 1518, yang berarti berusia 63 tahun. Sejak kecil hingga remaja berdiam di Palembang selama 18 tahun, sejak 1455 sampai tahun 1474. Menjelang remaja ia berangkat ke Jawa untuk menuntut ilmu pada Sunan Ampel, yang dalam naskah itu bernama Bong Swi Hoo. Dan setelah menjadi raja Demak, ia memerintah selama 40 tahun. Yakni naik takhta saat usia 23 tahun pada tahun 1475 sampai meninggal pada tahun 1518.

Sementara penggantinya, Yat Sun atau Pati Unus mempunyai masa kekuasaan yang sangat pendek. Hanya berkuasa selama 3 tahun, dari 1518 sampai 1521. Yang dalam naskah itu dianggap sebagai masa penyeling kekuasaan Trenggono atau Tung Ka Lo. Karena setelah Yat Sun meninggal, Trenggono naik takhta menggantikan sebagai raja Demak ketiga.

Di masa Trenggono inilah, 1.000 armada kapal yang dipersiapkan dari Semarang, digunakan untuk ekspedisi laut ke Maluku. Laporan Portugis menyebutkan adanya pertempuran melawan kapal-kapal orang Jawa, Makasar, dan Banda di laut Banda pada periode itu.

Pemberangkatan yang sama dengan dilepasnya armada perang Demak untuk menggempur Panarukan. Sebuah ekspedisi terakhir Sultan Trenggono yang gagal, dan ia mati terbunuh pada tahun 1546. Hingga kalau dihitung waktu, Trenggono telah memimpin Demak selama 25 tahun.

Yang setelah kematiannya tersebut, Demak mengalami kegoncangan, karena terjadi perebutan kepemimpinan. Hingga kalau dihitung waktu, sejak Jin Bun naik takhta pada tahun 1475, dan berakhir dengan wafatnya Trenggono pada tahun 1546, umur kekuasaan Demak tak lebih dari 71 tahun saja.

Usia yang singkat untuk sebuah kekhalifahan Islam di Tanah Jawa.

oleh Nassirun Purwokartun pada 5 Agustus 2011 pukul 15:24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s