Buka Buku 35: Inspirasi Demak Untuk Indonesia

Standar

 

KERAJAAN ISLAM PERTAMA DI JAWA

Sepertinya, kebijakan pemerintahan Demak dari Raden Patah, ke Pati Unus, sampai Trenggono hanya untuk memperkokoh kekuasaan Demak. Namun secara tidak langsung, sebenarnya telah memberikan inspirasi tentang daulat hukum dan sikap anti penjajahan pada bangsa Indonesia di kelak kemudian hari.

Raden Patah sang raja pertama, telah berhasil mendirikan Demak sebagai kekhalifahan Islam di pulau Jawa. Dengan Sunan Giri sebagai pemimpin Waliyyul Amri, Raden Patah selaku Ulil Amri berhasil menyusun kitab undang-undang “Salokantara”. Sebuah aturan hukum dan ketatanegaraan yang menjadi acuan jalannya pemerintahan Demak.

Kitab undang-undang yang berlandaskan syariah Islam, yang mengakui bahwa semua manusia sama derajatnya, sebagai khalifah Allah di dunia.  Hingga dengan begitu, rakyat tak lagi sebagai kawula yang hanya tunduk patuh para raja, namun juga mempunyai jaminan kepastian hukum yang adil untuk mereka.

Dan dengan bersandar pada Kitab Salokantara tersebut, raja-raja Demak juga secara sadar dan ikhlash dikontrol oleh kekuasaan Waliyyul Amri. Bahwa jalannya pemerintahan tidak berada dalam genggaman tangan seorang raja yang merasa sebagai titisan Dewa, hingga merasa selalu benar dan tak pernah salah. Dengan kepastian hukum itu, Demak telah memperkenalkan daulat hukum dan menjalankannya.

Setelah Raden Patah wafat, kekuasan Demak turun pada Pati Unus. Dengan pondasi kekuasaan yang telah kokoh, Demak mulai memperhitungkan keberadaanya. Sebagai kerajaan terbesar di Jawa, Demak yang saat itu merasa terancam oleh Portugis yang tengah menjajah Malaka, mengadakan perlawanan.

Penyerbuan dua kali yang dilancarkan Pati Unus dalam masa pemerintahannya yang hanya 3 tahun, adalah bukti bahwa Demak mempunyai armada laut yang perkasa. Yang meskipun tak berhasil mengusir Portugis, namun mampu memporak-porandakan pertahanan mereka. Dan dengan serangan itu, Portugis mengalami kerugin besar. Sebuah kenyataan pula, bahwa Demak telah melakukan perlawanan dan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan di atas dunia.

Dan perlawanan terhadap Portugis pun tetap dilakukan Demak pada masa pemerintahan Trenggono. Hanya kebijakannya berbeda. Kalau Pati Unus menggempur Portugis di Malaka, Trenggono lebih menekankan pada pertahanan di Jawa. Hingga seluruh pesisir utara, dari Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Gresik, Tuban, Pasuruan, dan Panarukan hendak dijadikan pertahanan Demak untuk membendung masuknya Portugis ke Jawa.

Banten dan Sunda Kelapa, sebagai pelabuhan utama kerajaan Pajajaran yang hendak bekerja sama dengan Portugis, telah berhasil ditundukkan. Berkat serbuan prajurit Demak yang dipimpin Fatahillah, dan dibantu laskar santri Cirebon pimpinan Sunan Gunung Jati dan Hasanuddin. Kemudian, dengan runtuhnya Majapahit, Tuban dan Gresik yang dulu menjadi Bandar utama Majapahit pun telah berada dalam kekuasaan Demak.

Hanya tinggal Pasuruan dan Panarukan di ujung timur pulau Jawa, yang merupakan pelabuhan utama Blambangan yang belum berada dalam genggaman Demak. Hingga di akhir kekuassan Trenggono, armada perang Demak kembali diberangkatkan dengan panglima utamanya, Fatahillah. Benteng Pasuruwan telah berhasil dikuasai, setelah peperangan panjang selama tiga bulan. Namun ketika hendak menyerbu Panarukan, Demak mengalami kekalahan sebab mendadak Sultan Trenggono terbunuh. Hingga cita-citanya mengamankan pulau Jawa dari barat sampai ke timur gagal dilaksanakan.

Begitulah yang kudapatkan dari buku “Kerajaan Islam Petama di Jawa” karya HJ. De Graaf dan Pigeaud, dua tokoh besar sejarah Jawa. Sebuah buku yang kemudian menjadi referensi utamaku dalam menulis novel Penangsang. Karena memang buku itu mengulas tuntas tentang tinjauan sejarah politik abad XVI dan XVI.

Dan sepertinya, buku itulah yang paling lengkap dalam menuturkan Demak. Sejak kemunculannya hingga keruntuhannya. Sejak Raden Patah dilantik menjadi Sultan, hingga Trenggono terbunuh di Panarukan. Sebuah kekuasaan yang tak lebih dari satu abad. Namun telah mengukir sejarah indah tentang kekuasaan yang berlandaskan syariah agama Islam.

“Raja-raja Demak berkuasa hanya selama 65 tahun,” begitu Rendra pernah mengungkapkan kekagumannya dalam sebuah pidato kebudayaannya  yang berjudul ’Megatruh.’ “Namun mereka adalah pahlawan-pahlawan bangsa yang memperkenalkan daulat hukum kepada bangsanya, yang terus membekas sampai kepada Mohammad Syafei, Cokroaminoto, dan tokoh-tokoh pembela hak asasi manusia dewasa ini.”

oleh Nassirun Purwokartun pada 6 Agustus 2011 pukul 8:11

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s